Tampilkan postingan dengan label CERPENKU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPENKU. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 April 2015

Cinta si Anak Luar Biasa

Diposting oleh Unknown di 20.35 0 komentar


Matahari kembali datang menyapa. Aku terbangun saat ku rasa ada bunyi nada monoton yang berbunyi tak jauh dari telingaku. “kringgg kringgg kringgg kringgg” suara alarm jam meja tua hadiah pemberian ayahku saat ulang tahunku yang ke-17. Menandakan jam sudah menunjukkan pukul 5.15 WIB. Aku coba membuka kedua pelupuk mata ini sembari tanganku mencoba meraih jam meja yang aku letakkan di atas meja, bersebelahan dengan kalender duduk, dan lampu hias kecil warna merah. “Bruuggghhhhhh...” “aduhhhhh” badanku malah terjatuh dari ranjang kayu dan terjuntai di atas lantai tanpa alas apapun.
Aku adalah mahasiswa rantauan asal Kulon Progo, DIY bagian barat yang kuliah di suatu perguruan tinggi ternama di Indonesia yang terletak di Yogyakarta. Mahasiswa Supersemar semester akhir dengan nilai-nilai dan prestasi akademik yang cukup memuaskan membuatku banyak dikenal teman-teman kampusku. Karena aku selalu mencoba menjalankan amanah dari ibu saat aku masuk kuliah pertama kali dulu, “kuliah yang benar, pesan ibu satu. Belajar menundukkan kepala, bertanya kepada siapa saja yang bisa kamu anggap guru. Dan selalu memakai ilmu padi yang semakin berisi semakin menunduk.”
Ku buka gorden warna merah jambu yang semampai di balik jendela tua, dan ku buka pula jendela tua itu sampai angin dan cahaya pagi masuk ke dalam kamar kosku di lantai 2 ini. Pagi ini begitu cerah, terdengar suara ayam jago yang sepertinya sedang latihan berkokok atau sedang memikat ayam betina milik tetangga kos ku itu.
Segera aku menuju ke kamar mandi karena rasa ingin segera mengguyur muka dengan air wudhu. Ternyata harapanku tak berjalan begitu mulus, terlihat terlalu banyak antrian orang-orang yang ingin mengguyur muka mereka juga. Beginilah derita anak rantauan yang setiap pagi harus mengantri lumayan lama, beberapa menit yang seharusnya bisa digunakan untuk hal yang lain tapi harus digunakan untuk mengantri mandi. Malas rasanya saat pelupuk  mata belum bisa terbuka harus berdiri antri seperti ini. Aku pergi menuju kran air yang sudah mulai karatan di samping kamar mandi, sholat dulu biar nanti mandi setelah sholat pikirku. Segar sekali rasanya terguyur air wudhu ini, Subhanallah.
Jilbab besar yang disebut mukena warna putih bercorak bunga dan bordir pink meski warna pinknya sudah banyak yang mulai luntur karena sering dicuci sudah ku pakai rapi. Mukena ini pemberian ibuku saat pertama masuk kuliah dengan pesan supaya aku tidak pernah melalaikan sholatku agar kuliahku berjalan lancar dan dimudahkan dalam segala hal. Selesai dua rokaat pagi ini tak lupa aku panjatkan doa untuk ibu dan ayahku di rumah agar mereka sehat selalu.
 “Allahumafirlanaa dzunubanaa waliwalidainawarkhamhumaa kamarobbayaanaashoghira Ya Allah ampinilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, dan kasihanilah mereka seperti mereka mengasihiku sewaktu aku kecil. Amin ya Rabbal’alamin”
Usai berdoa dan berdzikir aku melipat mukena putih yang sudah mulai lusuh ini dan meletakkannya di lemari kecil bersama baju-bajuku. Aku bergegas mengambil handuk dan segera kembali ke kamar mandi dimana tempat orang-orang berantri panjang tadi. Sampai di tempat terlihat tinggal sedikit orang, tinggal tetangga sekaligus teman sebelah kamarku. Kami sama-sama pejuang yang merantau jauh dari orang tua hanya ingin membuat orang tua kita menangis bahagia, bangga melihat kita kelak memakai baju toga lengkap dengan topi toga itu. Dan aku akan menyeka embun di kedua pelupuk mata ibuku nanti.
Jam menunjukkan pukul 8.00 WIB, setelah berdandan rapi dengan hem coklat dan rok hitam serta jilbab krem bermotif bunga-bunga aku bergegas pergi ke kampus. Sambil menunggu ada ‘bus tuyul’ yang lewat aku mengamati sekitar daerahku tinggal. Terlihat sudah sepi, hanya tinggal ibu-ibu yang menyapu dan berberes latar mereka. Tak lama kemudian, ‘bus tuyul’ yang ku nanti-nantikan akhirnya datang. “Jl. Colombo, Karangmalang, Pak!”
Kelas dimulai pukul 9 dan hari ini adalah pembagian tempat pembekalan KKN. Hari-hari kuliah terasa cepat sampai tidak terasa aku akan memasuki semester 8. Semester terakhir dan tahun wisudaku. Dosen membagikan tempat-tempat dimana kami akan mendapatkan pembekalan beserta kelompok KKN-nya dan kelas pun berakhir. Pagi itu aku mendapat tempat pembekalan di Jl. Tamansiswa di suatu gedung lembaga.
Aku sedikit mengeluh setelah acara pembekalan KKN selesai, karena mendapat tempat KKN yang cukup jauh dari kos, dan tempatnya lumayan terpencil jauh dari keramaian. “Jalani saja, mungkin akan menyenangkan hidup di desa. Kamu akan dapat banyak pengalaman baru nduk.” Kata ibu saat aku mengeluh padanya lewat telepon wartel samping kos.
Hari ini adalah hari pertama keberangkatanku KKN. Dan tidak akan pulang sebelum 1 bulan atau setelah tugas KKN ini berakhir. Semalam sudah aku persiapkan semua kebutuhan dan peralatan yang diperlukan sebulan di sana. Berat sekali isi koperku ini, bagai mau pergi merantau lagi di daerah yang lebih jauh. Setelah berkumpul dengan teman-teman satu kelompok KKN kami berangkat dengan berboncengan motor. Barang-barang kami angkut dengan mobil pick-up karena terasa sangat banyak barang bawaan kami.
Tibalah kami di sebuah desa yang sangat jauh dari keramaian, Desa Tanjungsari. Desa yang begitu hijau dengan pohon jati dan pohon pisang dimana-mana. Rindang sekali desa ini, dan tidak terlihat ada gedung pencakar langit sepanjang mata memandang. Udara begitu segar, jauh dari udara di kota. Pemukiman penduduk juga masih jarang-jarang, jarak antar rumah bisa sampai 100m lebih, begitu asri Tanjungsari ini.
Sampai di rumah kepala desa, kami disambut oleh Bapak kepala desa yang kami kenal bernama Pak Sosro dan Ibu kepala desa Ibu Tina. Kami dipersilakan masuk ke dalam ruang tamu Pak Sosro, di dalam Pak Sosro memberikan sekilas info tentang Desa Tanjungsari ini. Dan tempat-tempat yang mungkin penting bagi kami, seperti warung, puskesmas dan sekolahan. Setelah selesai berbincang dengan Pak Sosro dan minuman sudah tinggal beberapa tetes Pak Sosro mengajak kami ke rumah kosong yang akan kita tempati selama sebulan ini.
Tidak jauh dari rumah Pak Sosro, rumah kecil dengan teras kecil bercat putih yang sudah mulai mengelupas. Aku bersama Ninik, Anik, Sri, Ning dan teman laki-laki Didik, Yono, Tegar membawa masuk semua perlengkapan yang kami bawa dari mobil pick-up. Satu kamar untuk aku, ninik, dan anik. Satu kamar untuk Sri dan Ning. Dan satu kamar untuk laki-laki. Tidak begitu kecil rumah ini, sekiranya sudah cukup untuk 8 orang.
            Jam menunjukkan pukul 7 malam, setelah sholat berjamaah di masjid bersama kawan lain, kami berkumpul di ruang tamu untuk diskusi masalah proker selama KKN. Setiap pagi selama KKN kami akan mengajar di suatu sekolah yang istimewa. Setingkat dengan SLTA, tapi sekolah ini lebih luar biasa karena kami akan mengajar di Sekolah Luar Biasa tingkat SMA di SLB Binajiwa. Kesan awal, aku sama sekali tidak yakin bisa mengajar di sekolah itu karena aku sama sekali tidak punya pengalaman mengajar anak-anak istimewa titipan Illahi ini.
            Kami beranjak tidur dan pergi ke kamar masing-masing setelah pembahasan proker selesai, berharap segera ingin matahari kembali menyapa.
            Pagi ini adalah hari pertama kami datang di SLB Binajiwa, selesai pembagian tugas dan tanggung jawab kelas yang harus diajar oleh Ibu Kepala bagian personalia, kami segera masuk ke kelas masing-masing. Aku bersama Ninik masuk ke kelas 11A yang berisi 20 anak. Ada 13 anak laki-laki dan sisanya perempuan. Wajah polos mereka dengan segala kekurangan yang mereka miliki membuat hatiku bergetar, bangga rasanya aku berdiri di depan mereka. Aku memperkenalkan diri di depan kelas dan mendapat sambutan dari mereka, senyum lepas mereka begitu semangat menjawab salamku, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang aku tanyakan pada mereka. Mereka begitu polos, tertawa lepas seakan tidak ada beban pikiran di hidup mereka. Bahagianya, aku sangat terhibur dengan adanya mereka di sekelilingku. Padahal umur mereka yang rata-rata seumuran dengan kami, ada pula yang lebih tua dari kami mahasiswa semester 7.
            Setiap pagi aku semangat sekali berangkat ke sekolah SLB ini. Sampai suatu hari di kelas saat murid yang bernama Budi mengikutiku kemana saja aku pergi. Budi Yulianto anak orang kaya dan terpandang dari Jepara dan terlahir cacat mental, dia pun diasingkan oleh keluarganya di SLB Binajiwa di daerah Tanjungsari yang sangat terpencil. Setiap jam pelajaran selesai dia menangis, dia tidak ingin aku keluar dari ruangan. Apapun yang dia lakukan dia akan selalu ingin di dekatku. Aku tidak merasa aneh sama sekali, justru bahagia jika ada muridku yang dekat denganku.
            Matahari mulai terlihat makin bersembunyi di balik garis katulistiwa membuat bumi Tanjungsari ini sedikit teduh. Awan mulai menjinggakan dirinya dan aku sendiri segera melepaskan penat seharian ini. Merebahkan tubuh di atas tempat tidur tanpa ranjang milik Pak Sosro. Melamun sebentar melepas segala penat dan keringat seharian ini, dan seseorang memanggil namaku membuyarkan lamunanku. Segera aku beranjak dari tempat tidur karena Anik memanggilku karena ada seseorang yang mencariku, ternyata Budi. Aku segera keluar menuju ruang tamu dan tidak melihat Budi di ruangan itu, terlihat meja tua milik Pak Sosro bergerak dan aku tahu itu Budi yang bersembunyi di kolong meja. Entahlah aku tidak mengerti motivasi dia. Aku suruh dia keluar dari kolong meja lalu mengajak dia duduk di kursi tamu diruangan itu.
            Hari-hari selanjutnya kerena tugas kami mengajar murid-murid sekolah SLB Binajiwa membuat rumah kami setiap hari ramai dengan murid-murid yang ingin belajar bersama dirumah, termasuk Budi. Setiap hari dia datang dan seperti biasa dia selalu bersembunyi di kolong meja sampai aku menyuruhnya keluar dari sana, ternyata dia malu. Sampai pada suatu malam minggu aku kedatangan tamu teman laki-laki dari posko KKN sebelah desa saat Budi juga sedang di rumah poskoku. Dia ngambek dan bersembunyi di balik pintu enggan juga keluar sampai teman laki-lakiku pulang.
            Suatu hari Ninik teman sekamarku memberiku selembar surat dengan amplop warna pink entah isinya apa. “Ini dari Budi, katanya untuk kamu” kata Ninik sembari memberikan surat itu. Di dalam amplop itu ada selembar surat dengan surat warna pink dengan animasi bunga-bunga dan tercium seperti ada bau parfum di kertas itu.
                        “Nama: Budi Yulianto
                        Nama Ayah: Yadi Yulianto
                        Nama Ibu: Purwanti Yulianto
Nama Adik: Adi Bakti Yulianto”
Begitulah isi surat itu, aku sungguh tidak mengerti arti dari surat itu. Mungkin hanya iseng karena sudah bisa menulis dan mempraktikan seperti yang di ajarkan di sekolah.
            Pagi ini aku bertemu Budi di sekolah, aku menyapa dan mengajaknya senyum. Tapi entah apa yang ada dalam pikirannya, dia seperti marah padaku. Dengan muka kesal, bibir manyun membuatku tertawa sendiri dalam hati karena aku tidak merasa punya salah apapun padanya. Siangnya ada surat yang sama lagi aku terima, dengan amplop dan isi yang sama persis. Aku belum juga paham maksud Budi mengirim surat ini. aku menganggapnya biasa saja karena memang ada yang kurang pada dirinya. Saat bertemu di sekolah sehari setelah surat itu aku baca, dia bermuka lebih kesal dan ternyata aku tahu dia kesal karena aku tidak membalas surat yang dia kirim. Dan itu berlanjut sampai ada setumpuk surat dari Budi yang isinya sama.
            30 hari sudah kami mengabdi pada desa Tanjungsari dan SLB Binajiwa, tidak terasa sudah saatnya mengucapkan selamat tinggal pada teman-teman luar biasa yang kami ajar di SLB Binajiwa. Teman-teman yang menumbuhkan semangat belajar kami untuk meneruskan perjalanan pendidikan kami lebih tinggi lagi dengan segala kekurangan mereka, mereka bisa punya semangat untuk menuntut ilmu.
            Hari ini adalah hari terakhir mengajar di kelas SLB Binajiwa, berpamitan dengan anak-anak tapi sepertinya mereka tidak berkenan memberi ijin kami pulang. “semangat teman-teman, kalian istimewa dan luar biasa.” Kami pun pulang dengan membawa kenangan dari SLB Binajiwa yang akan selalu ada di hati kami, senyum anak-anak luar biasa yang tidak akan kami lupakan.
            Sore ini setelah membereskan segala pakaian dan barang-barang kami berpamitan dengan Pak sosro, karena kami juga sudah mengadakan perpisahan kecil di kampung tadi malam, kami langsung bersiap untuk perjalanan menuju kota. Tapi muridku Budi yang ikut membantu membereskan barang-barang kami, tidak mengijinkan aku pulang, dia merengek menangis menahanku agar tidak pergi. Dan akhirnya kami pulang setelah Budi di tenangkan oleh Pak Sosro dan Istri setelah aku berjanji akan datang lagi untuk menjenguknya.
            Hari-hari disisa akhir kuliahku berjalan begitu cepat. Aku masih dengan keseharianku di kos dan tugas sekeripsi tentunya yang sudah menantiku untuk selangkah maju menuju baju toga itu. Siang ini aku hanya menganggur dan bosan sekali di kos, tidak ada aktivitas menyenangkan yang bisa aku kerjakan sampai tiba-tiba aku di panggil teman kamar sebelahku. Terdengar ramai diluar sepertinya ada hal yang tidak biasa, ternyata aku kedatangan tamu dari desa Tanjungsari. Aku begitu kaget melihat sosok orang dengan badan besar tinggi, berkumis tipis dan brewok tipis di dahinya. Orang itu berumur sekitar 28th, dia adalah Budi murid SLB Binajiwa. Tidak kaget kalau kos-kosan mendadak heboh karena ada anak SLB yang mencariku.
            Aku sama sekali tidak menyangka Budi bisa sampai ke tempat kos ku yang berjalak jauh dari desa Tanjungsari, aku melihat ditangannya menggenggam kertas bertuliskan “Dari jalan pahlawan Tanjungkarang naik bus Mahardika sampai ke terminal Sukokiwo. Lalu naik BUSKencana bilang sama Pak  Kenek Busmau ke Terminal Giwangan. Lalu turun dan cari Buslagi jurusan Jogja kota baru. Lalu naik BusTuyul sampai ke desa Babarsari RT 4 gang Pandan wangi”. Selembar surat itu dari guru Budi di SLB Binajiwa.
            Aku mengajak Budi jalan-jalan sebentar lalu mampir di warung kopi di Desa tempat aku kos. Banyak juga yang bertanya termasuk Ibu pemilik warung kopi, “adiknya ya mbak?” bingungnya aku mau menjawab apa. Senyum kecil isyarat untuk Ibu pemilik warung kopi, dan semoga Ia paham. Selesai makan aku mengantar Budi ke terminal dan mencarikannya bus yang langsung menuju ke Tanjungsari.
            Sore ini aku mencoba berkelut dengan sekeripsiku, panas dan begitu penat melihat lembar-lembar kertas yang tak kunjung selesai. Tiba-tiba ada Ibu kos yang mengetuk pintu kamarku, aku segera membukakan pintu dan mempersilahkan Beliau masuk. Aku terkejut saat Ibu Kos memberikan kabar tentang kabar Budi yang sekarang sedang Opname di JIH (Jogja International Hospital). Keluarga Budi memintaku untuk datang ke Rumah Sakit atas permintaan Budi karena menurut informasi dari Ibu Kos dia demam tinggi dan mengigo memanggil-manggil namaku. aku segera bergegas mandi dan bersiap ke JIH sore ini juga.
            Sesampai di Rumah Sakit aku langsung menuju ke bagian informasi untuk menanyakan di kamar mana Budi di rawat. Segera aku menuju kamar kelas 1 dan aku mengintip sedikit di balik gorden pintu, aku melihat Budi yang matanya tertutup tapi mulutnya seperti masih berteriak-teriak. Aku beranikan diri untuk masuk menemui Budi dan keluarganya. Aku pegang tangannya dan berkata “Aku di sini Budi, menjenguk kamu. Budi apa kabar?”. Dia membalas memegang tangaku dan membuka matanya, dia terlihat begitu gembira dengan senyum polos selalu dia berikan padaku dulu. Badannya memang panas dan sepertinya keadaaannya buruk.
            Jam kunjung Rumah Sakit sudah habis karena sudah lebih dari jam 8 malam. Aku ingin segera berpamitan dengan Budi dan keluarganya. Tapi Budi mengamuk dan benar-benar tidak mengijinkankku untuk pergi. Dia memegang tanganku erat-erat sambil tetap berteriak-teriak meminta Ibu dan Ayahnya untuk menahanku tetap di sana. Perasaanku campur aduk, dari yang awalnya ragu untuk datang memenuhi permintaan orangtuanya dan sekarang ditambah aku yang tidak di ijinkannya pulang. Ibunya terlihat meneteskan air mata tersirat harapan agar aku tetap di sini menemani sisa hidup Budi. Ada bagian di air mata Ibu Budi yang mengerti perasaanku, tidak mungkin aku mengorbankan hidupku untuk menemani Budi mengorbankan masa depanku yang masih panjang ini. Dan akhirnya dengan terpaksa aku harus meninggalkan Budi yang keadaannya masih buruk dan berharap dia segera sehat kembali. “semoga lekas sembuh ya Budi, aku selalu berdoa untukmu. Kapan-kapan aku akan main ke rumahmu kalau kamu sudah sembuhJ”, meskipun Budi tetap mengamuk dan menangis akan kepergianku malam itu.
            Berbulan-bulan lamanya aku memendam cerita cinta si anak luar biasa itu tanpa ada siapapun yang tahu kecuali Budi dan keluarganya. Sampai suatu hari aku mendengar kabar yang kurang menyenangkan dari teman KKNku dulu. Kabar duka dari Budi Yulianto yang sekarang sudah berpulang dan meninggalkan puing-puing kenangan di hati diumurnya ke-30. Kisah cinta si anak luar biasa yang ternyata endingnya kurang menyenangkan. Dan aku memutuskan untuk menyimpan cerita ini sebagai kenang-kenangan darinya entah kapan kisah ini akan aku kisahkan.
            Rahasia Ilahi yang tidak pernah terfikirkan olehku, yang ternyata anak yang terlahir dengan kekurangannya ternyata bisa merasakan rasanya jatuh cinta seperti manusia pada umumnya. Mungkin hanya sedikit fisik dan mentalnya yang terlahir tidak sempurna tapi hati dan perasaannya terlahir sempurna seperti layaknya manusia yang terlahir normal fisik maupun psikis. Semoga di Surga kelak kita akan bertemu lagi, Budi.
TAMAT


Desy Afrida Hardiyati, 11 April 2015
Cerpen ini dibuat atas inspirasi dari guru tercinta Ibu Samilah, teruntuk beliau dan Budi yang akan selalu menjadi bagian dari cerita hidup Ibu :)

Kekasih Pulau Sebrang

Diposting oleh Unknown di 20.26 0 komentar
Ditulis Tanggal 15 September 2014


Aku adalah seorang pelajar di salah satu sekolah menengah kejuruan di Yogyakarta. Dan tahun ini aku akan menempuh Ujian Nasional untuk mengakhiri masa putih abu-abuku. Dan ditahun ini pula Joo, akan melaksanakan wisuda S1nya di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta dan akan meninggalkanku di kota istimewa ini sendirian untuk kembali ke tanah kelahirannya. Joo adalah seorang mahasiswa semester akhir yang bukan berasal dari kota istimewaku ini. Dia senior yang aku kenal di sekolah dulu, sudah satu tahun ini kami menjalin hubungan. Kami berkenalan saat ada acara di salah satu sekolah yang melibatkan siswa-siswi SMA dan mahasiswa bertemu dalam satu event.
Entah bagaimana kita bisa berkenalan hingga akhirnya dekat dan menjalin hubungan. Aku ingat saat dia mengajakku jalan untuk pertama kalinya, dan saat dia menyatakan cinta di tepi pantai sore itu. Aku selalu merindukan saat-saat bersamanya dulu.
Ujian Nasional pun berakhir dan di bulan ini lah Joo melangsungkan wisudanya. Betapa berat hati ini melepas kepergian kekasih hati. Dan aku pun tak tahu kapan kita bisa bertemu kembali. “Hati-hati sayang! Aku akan selalu merindukanmu,” kataku sambil memeluknya di ruang tunggu tempat pengantaran terakhir di bandara siang itu. Tak peduli berapa pasang mata yang memandang kami. “Jaga diri kamu baik-baik, aku pasti kembali”, katanya sembali mengusap air mata yang berlinang di pipiku.
Joo mengecup keningku seolah tak ada seorang pun di tempat itu. Suara mbak-mbak wanita yang mengisyaratkan pesawat yang ditumpanginya akan segera lepas landas menambah kegelisahan hatiku. Aku mencoba melepaskan genggaman tanganku dari jari-jarinya yang sedari tadi enggan aku lepaskan. Anak kecil yang duduk tidak jauh dari dariku entah sengaja atau tidak memutar lagu di Hpnya, “bersabarlah sayang, aku akan pulang. Jangan dengarkan gosip belaka tentang aku. Bersabarlah sayang aku akan pulang.....”
Perpisahan memang tidak ada yang mudah sekalipun itu menjanjikan kebahagiaan. Aku seakan tidak siap untuk menjalani hari sendiri tanpanya. Yang biasanya kita selalu makan di warung nasi rames itu berdua, dan setiap aku tidak bisa menghabiskan nasinya. Aku akan menyuruhmu untuk menghabiskannya sampai ke tulang-tulangnya, kini aku hanya bisa makan sendiri dan ku buang sisa nasi yang tidak habis itu. Tidak ada lagi yang aku jambak rambutnya saat aku kesal karena rambut itu tidak juga di potong, bahkan sudah seperti sarang burung. Tidak ada lagi yang mengambil foto pose alay dan aku ajak selfie saat jalan-jalan di pantai, gunung, sawah, taman, bahkan Malioboro yang dulu rajin kita kunjungi. Tidak lagi ada suara yang khas yang katanya mirip Judika itu sepanjang jalan aku mengendarai motor. Karena biasanya aku harus mendengarkan puluhan lagu yang kamu nyanyikan sepanjang jalan bak mendengarkan radio tanpa berhenti bernyanyi. Tapi semua itulah yang aku selalu rindukan.
Bulan pertama terasa begitu asing ketika aku dan dia yang dulunya selalu bersama kini nyaris tidak pernah bertemu selain di dalam mimpi dan khayalan. Rasa rindu yang kian menyiksa setiap detiknya terus dan terus saja tak henti-henti menyerang lubuk hati ini. Bertukar cerita saat larut datang adalah cara kita untuk melepas sejenak rasa rindu yang bergejolak ini. Sering kali tiba-tiba telepon mati setelah berjam-jam menelpon lalu ada SMS masuk, “sayang pulsa habis kesel banget sumpah!” Dan akulah yang selanjutnya akan menelponnya sampai pulsaku pun ikut habis sebelum kami puas.
Andai ada makelar rindu yang bisa membeli rasa rindu, mungkin kekayaanku melebihi kekayaan Bapak Aburizal Bakri yang jadi orang terkaya masa kini di Indonesia. Setiap malam aku selalu menyempatkan diri untuk melihat foto-foto kita dulu saat bersama di laptopku. Oh, menatap fotonya seperti hanya meneguk setetes air di gurun pasir. Mungkin jika operator bisa menyadap SMS kami, mungkin dia akan bosan mendengar berkali-kali bahkan berjuta kali kami berkata rindu.
Setiap hari kami selalu menyempatkan diri untuk mengobrol di telepon, dia sering menyanyikan lagu bersama gitarnya yang dulu sering kita pakai untuk bernyanyi berdua.
“Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya, menahan rasa ingin jumpa. Percayalah padaku aku pun rindu kamu, ku akan pulang melepas semua kerinduan yang terpendam.”
Lirik lagu yang selalu menempel di hatiku, lagu yang sering dia nyanyikan lewat telepon.
          Memasuki tahun kedua perpisahan kita aku sudah mulai terbiasa melewati kesendirian ini. Rasa cemburu sering kali terbesit di pikiranku, wajar saja kerena aku benar-benar tidak bisa melihat apa pun yang dia lakukan di sana. Kadang aku sering kesal saat dia tidak menghubungiku seharian sampai larut. Tapi aku harus bisa mengerti kapan aku harus memberi dia perhatian, dan mengerti saat dia tidak ingin diganggu. Kerena di sana sudah memasuki dunia kerja, cerita terakhirnya lewat telepon kemarin dia sudah mulai mengajar di salah satu sekolah swasta di kotanya. Dan aku sendiri sudah mulai sibuk dengan tugas-tugas kuliahku. Di sinilah kita harus bisa saling mengerti.
          Memasuki kesibukannya yang sekarang sudah menjadi mengajar tetap, membuat Joo sibuk dengan dunia barunya. SMS berisi “sudah makan? Lagi apa sayang?” sudah mulai jarang aku terima. Malam ini aku mencoba menghubunginya dan bertanya, “sibuk banget ya Pak Guru?” Beberapa saat kemudian ada SMS masuk dari Joo, “maaf banget bukan maksud gak hubungin kamu.....” Mengerti dan mengerti yang hanya bisa aku lakukan saat ini. Meskipun dalam hati aku rapuh dan butuh pundak untuk bersandar, layaknya perempuan yang juga butuh diperhatikan. Aku hanya meminta waktu larutnya sebentar saja, biar aku terima pagi, siang, sorenya dia habiskan untuk kesibukannya. Tapi tolong untuk larut saja sisakan untukku. Untuk sekadar melepas rindu lewat telepon saja.
          Siksaan LDR ini tidak terasa 2 tahun sudah kita lewati bersama, banyak yang bisa aku ambil dari pohon LDR ini. Sebongkah kepercayaan saja modal kita satu sama lain. Kesabaran dan penantian sudah akrab di telinga kami. Di masa kuliahku yang hampir memasuki semester 5 tidak sedikit godaan yang menggoyahkan kesetiaan ini. Tapi tak sedikit pun terbesit pikiran akan berpalilng dari Joo. Meskipun terkadang terlintas keraguan tapi aku selalu mencoba percaya karena hanya itu saja modal yang kami punya. “pacar kamu mana? Cie cie jomblo ya? Udah deh cari aja yang baru,” “kamu gak takut di sana ditinggal cari sampingan?” kata-kata seperti ini sering kali terdengar dari mulut teman-temanku. Terlalu panas telinga ini karena terlalu sering mendengarnya, tapi selalu aku coba membesarkan hati dan menjawab singkat, “aku yang mengenal dia bukan kalian. Soal sampingan itu tergantung orangnya.”
          Hubungan ini mengajarkanku bagaimana menghargai satu sama lain, belajar bersabar dan melawan seribu rasa kesepian. Aku menjadi tahu seberapa berharga seseorang saat dia tidak bersama kita lagi. Besarnya cintaku pada Joo tidak akan aku menukarnya hanya karena rasa kesepian ini. Karena keyakinanku hanya satu, hanya menunggu waktu. Dan kebahagiaan ini akan terpuaskan.
          “sayang kamu libur kapan?” tanyaku lewat telepon disuatu malam yang cukup sepi. “Bulan depan setelah tahun ajaran ini selesai, insyaallah libur satu bulan. Aku ambil cuti.” Jawabnya datar terlihat lelah atas sehariannya yang sibuk. “Aku pasti jenguk kamu, kamu yang sabar,” kata-kata yang paling sering sekali aku dengar dari telepon genggamku ini. Rasa rindu yang menusuk ini sering kali membuat embun di kedua pelupuk mataku. Aku hanya bisa berdoa agar segera Tuhan Allah cepat pertemukan kami.
          Minggu pagi yang cerah, dengan awan yang biru merekah dan burung-burung yang bernyanyi dengan kicaunya, menambah semangatku hari ini. Hari ini free tanpa jadwal apapun, hanya berbaring di tempat tidur saja sedari pagi. Tiba-tiba HP pun berbunyi, 1 pesan di terima dari Joo, “Aku sampai Jogja jam 1, kamu bisa jemput sayang? Aku tunggu di bandara. I Love U,” satu kalimat yang membuat ku sedikit shock dan tidak bisa berkata apa-apa. Sudah 2 tahun ini kami benar-benar tidak bertemu, dan tiba saatnya kita akan bertemu lagi. Begitulah rasanya, tidak mampu lagi di gambarkan. Rasa rindu yang meletup-letup ini seperti layaknya seekor anak ayam yang tersasar kemudian bertemu ibunya. Ingin segera memeluk erat ibunya. Tidak pikir panjang aku langsung membalas pesan itu, “I love U too.”
          Segera aku bergegas lari dan bersiap-siap untuk segera pergi ke bandara. Jam menunjukkan pukul 11, aku tidak sabar lagi menunggu jam 1 tiba. Mungkin rasa bahagia ini jika dilukiskan di kain kanvas akan menghabiskan ber-meter-meter kain kanvas. Ingin segera aku berjumpa dengan pencuri hati itu, sudah tergambar dalam pikiranku bagaimana keadaannya sekarang. Apa dia sekarang mendadak putih mirip Justin Bieber? Apa dia sekarang hitam seperti Bapak Obama? Uh aku tidak sabar lagi untuk pertemuan ini.
          Dengan baju warna putih bercorak bunga-bunga manis dan hijab dominan merah serta sepatu yang tidak kalah ceria aku segera bergegas menuju bandara. Sesampai di bandara pukul 13.00 WIB aku menuju ke tempat ruang tunggu yang dulu adalah tempat perpisahan kita serta menjadi pertemuan terakhir kita. Suasana ramai oleh pengunjung yang mungkin menjemput atau sedang menunggu pesawatnya tiba. Mungkin juga ada yang bernasip sama denganku, menanti kekasih hatinya turun dari burung besar yang membawanya meninggalkanku itu.
          Waktu menunjukkan pukul 13.20 WIB aku sudah tidak sabar lagi menanti Joo datang, tapi entah kenapa tak kunjung terlihat batang hidungnya. Aku coba kirim sepatah kata lewat SMS, “sayang aku udah di ruang tunggu. Kamu udah sampai?” Joo membalas pesanku tanpa menunggu lama, “Pesawatku dellay jam 3 sore baru sampai sayang, gimana?” “Yasudah aku tunggu. Take care honey.” Ouggh harapanku ingin segera bertemu kekasih hati harus tertunda, dan aku harus menunggu lebih lama.
          Hati semakin gelisah dan rindu ini semakin berkecamuk, terbesit pikiran sambi menunggu jam 3 aku mencoba menunggu di kantin bandara. Sekedar melepas kejenuhan, karena memang menunggu itu membosankan. Aku memesan minuman dan semangkok bakso kepada wanita setengah baya yang berpakaian rapi warna putih celana hitam itu. Wanita itu mendatangiku beberapa saat setelah aku duduk di kursi kantin.
          Beberapa saat kemudian wanita paruh baya yang ku tahu dia adalah pelayan di kantin itu datang membawa baki berisi minuman dan bakso yang aku pesan, “silahkan non baksonya. Ada lagi?” Tiba-tiba suara yang tidak asing bagiku menjawab dari arah tidak jauh dariku, “tambah bakso satu ya buk, sama es teh.” Tidak fikir panjang lagi aku tengok ke arah suara itu. Dan benar saja, rasa tidak percaya itu adalah Joo. Batang hitung yang sedari tadi aku tunggu-tunggu kini akhirnya datang juga. Dia bohong kalau pesawatnya sampai Jogja jam 3. Uhh! Dia tetap saja terlihat manis dengan rambut ikalnya dan senyumnya yang khas.
          Rasa haru, sedih, bahagia, kaget bercampur aduk dalam benak hati. Aku langsung berdiri dan memeluknya tanpa menghiraukan berapa pasang mata yang menatap ke arah kami. Wanita pelayan kantin yang sedari tadi melihat kami hanya tersenyum lalu berlalu masuk ke dalam dapurnya untuk membuatkan pesanan Joo atau mungkin pelanggan lain. Tubuh ini enggan melepaskan pelukan ini, hanya ini yang jiwaku inginkan saat ini. Pelukan hangat yang hampir tidak pernah lagi aku rasakan.  Tidak bisa digambarkan lagi bagaimana rasa senang dalam hati ini, setelah 2 tahun kita berpisah dan akhirnya Tuhan Allah mempertemukan kita lagi.
          Joo akhirnya mencoba menyuruhku untuk melepaskan pelukan kita. Dan kami pun duduk di kantin bandara menunggu  makanan Joo yang tadi dipesan. Betapa bahagia hati ini Tuhan, trimakasih.
          Sebulan ini kita lewati hari-hari bersama, kita kembali menyusuri tempat-tempat yang dulu kita pernah kunjungi. Sekadar flashback kenangan-kenangan kita dulu, dan seakan semua seperti saat dulu kita menghabiskan waktu di kota istimewa ini. Rasa rindu ini puas terbayar sudah tanpa sedikitpun yang tersisa. Pertemuan ini hanya seperti mimpi dan angan-anganku saja.
          Sampai akhirnya tiba saatnya Joo harus kembali ke tanah kelahirannya untuk melanjutkan kewajibannya di sana. Lagi dan lagi aku harus merasakan perpisahan yang menyebalkan ini. Andai boleh aku ingin ikut bersamanya atau dia yang aku tahan untuk tidak pergi lagi. Dengan wajah cemberut dan kesal karena tidak ingin ada perpisahan aku mengantarkannya lagi ke bandara, satu-satunya tempat kenangan dan penuh harap. Aku tidak rela dia meninggalkan ku lagi di kota ini sendiri. “Aku gak mau kamu pergi lagi,” kataku tanpa melepaskan genggaman tangannya. Dengan senyum dan penuh harap dia menjawab, “tenang sayang, aku hanya pergi sebentar. Tahun depan setelah kamu wisuda aku akan datang lagi ke rumahmu membawa kedua orang tuaku dan tidak lupa membawa cincin untuk melamarmu. Makanya kamu kuliah yang rajin biar cepat lulus. Semakin lama kamu lulus semakin lama pula pertemuan kita nanti.” Air mata ini tak kuasa lagi ku bendung, dan mengalir membasahi pipi yang sedari tadi memerah. Aku hanya mengangguk ternyenyum dan meyakinkan diri, dan pelukan terkahir ini mengantarkannya untuk pulang. Satu harapan dia berikan sore itu ku bawa pulang dan ku simpan baik-baik sampai kelak Tuhan Allah mempertemukan kita lagi. Tidak hanya sekadar pertemuan singkat, tapi pertemuan yang mengantarkan kami ke pintu kebahagiaan. Terimakasih Tuhan Engkau beri kami kesempatan untuk bertemu. Terimakasih 
             Namun ceritaku tidak berakhir manis, Jarak adalah yang selalu dipersalahkan ketika pasangan LDR berpisah. Alih-alih ketidakmampuan mereka menjaga komitmen. Akhirnya kami dipisahkan oleh banyak hal, bukan aku tidak mau berjuang lagi. Hanya aku tak mampu bertahan terlalu lama pada keadaan seperti ini.

Cerita ini kebanyakan hanya fiktif belaka, hanya segelintir pasangan LDR yang berhasil, LDR adalah dimana rumah kamu dan dia tidak mampu ditempuh beberapa jarak. Bukan pasangan yang tinggalnya berjauhan dikarenakan si dia bekerja atau hal lain karena keadaan ini cepat atau lambat dia akan pulang kerumah. Namun tidak ada yang tidak mungkin jika sama-sama ada usaha, pengorbanan banyak dibutuhkan untuk pasangan LDR sesungguhnya seperti ini. Maaf jika ada kesamaan tokoh, cerita, watak penulis mohon maaf.

Sabtu, 07 Desember 2013

CERPEN TENTANG LAGU TINGGAL KENANGAN UNTUK ZASKI

Diposting oleh Unknown di 03.03 0 komentar
Selamat Malam Teman :) pagi ini sebelum berangkat sekolah karna masuk siang, jam 10 pagi aku nonton sinema pagi di salah satu stasiun televisi nasional. Judul FTVnya “Gabby dan Lagunya” sinopsisnya menceritakan tentang kisah lagu Gabby yang judulnya Tinggal Kenangan yang sekitar 4tahun yang lalu sempat nge-hits di Indonesia. Lagu ini punya kisah sendiri buatku, kenangan tentang kisah yang pernah terjadi padaku sekitar 4tahun yang lalu saat lagu ini nge-hits. Di ending filmnya aku merasa terenyuh sempat air matapun keluar. Lalu tiba-tiba rasa rindu itu datang, rasa sedih itu datang, teringat pasa seorang kekasih. seseorang yang pernah ada bersama orang-orang disekelilingnya yang sayang padanya, namun dia malah meninggalkan orang-orang itu....termasuk aku :’)
            Pagi itu 18 november 2009 aku terbangun dari tidur sekitar pukul 5 am. Aku beranjak keluar kamar menuju kamar mandi lalu sembahyang. Tiba-tiba ku lihat ibuku yang ada di dapur berkata “zaski gak ada” kemudian diam. Aku sempat bingung, antara percaya atau tidak. Aku kira ibu salah ngomong buat aku gak bisa percaya, di sisi lain aku ingat kalau Zaski lagi opname di RS 3 minggu ini jadi kenapa kata-kata ibu tadi tidak bisa dipercaya? Aku beranjak pergi masuk ke kamar lalu sembahyang, selesai sholat aku berdoa, “Ya Allah berikan zaski kesembuhan agar kita semua bisa bertemu dia kembali, dia bisa kembali berkumpul dengan kami. Ya Allah semoga omongan Ibu tadi keliru. Sembuhkan dia Ya Allah” kemudian aku kirim ayat-ayat Al-quran untuknya. Selesai sholat aku terdiam memikirkan keadaan zaski di RS. Aku ambil Hpku dari atas meja, kemudian aku buka ada sekitar 5 SMS mungkin lebih dari 2 orang Kakaknya Zaski, Adiknya Zaski, dan dari teman baikku. Bergetar rasanya badan ini membaca pesan itu. Berita lelayu yang isinya bilang kalau Zaski berpulang dini hari tadi sekitar jam 2.15 am. Zaski sejak SD mengidap penyakit kebocoran jantung, yang saat ini malah menjadi komplikasi karna katanya cairan jantung itu merembes ke organ lain. Sampai akhirnya detik ini Dia pulang. Tidak terasa air mata mengalir, sempat shock dan gak percaya. Tiba-tiba ada orang memanggilku dari luar rumah. Sambil mengusap mata aku keluar kamar, terlihat diluar ada adik kandung zaski dan sepupunya. Mereka datang niat untuk memberi berita lelayu itu. Singkat aku jawab, “aku sudah tahu”. Seperti mulut ini susah dan gak ada niat untuk bicara banyak. Aku masuk kembali kerumah dan bersiap pergi ke sekolah.
            Sekitar jam 6.30 am aku berangkat ke sekolah bersama temanku. Sampai di sekolah masuk ke gerbang terlihat pandangan mereka yang melihat ke arahku dalam diam. Seakan tatapan itu menyimpan banyak pertanyaan yang tertuju padaku. Sebelum masuk ke kelas aku dan temanku melewati mushola sekolah, langkahku terhenti mendengar ada yang memanggil namaku. Terlihat sudah ada banyak orang kakak kelas dan teman-temanku di sana. Aku mendekat lalu duduk, mereka memandangku penuh tanya. Mungkin! Aku diam lalu ada yang bertanya, “gimana ceritanya?”. Diam dan suasana menjadi hening, akhirnya aku ceritakan semua sampai air mata itu tiba-tiba mengalir lagi. Dan mereka ikut sedih. Sekolah ini sedang berduka. Kita semua telah kehilangan satu dari siswa sekolah ini. Semua berduka, rasanya ini adalah hari terburuk sepajang hidup ini. Di akhir cerita aku ingat sekali teman-teman nyanyi lagunya Laluna “selepas kau pergi”. Pagi itu seakan semua sedang berduka, bersama menyanyikan lagu itu, berlinangan air mata. Selesai cerita aku meninggalkan mereka lalu masuk kelas. Belum banyak yang datang pagi itu, aku masih diam duduk di kursi. Aku buka HP melihat layar berharap ada SMS dari Zaski, biasanya setiap pagi dia SMS mengirim pesan selamat pagi. Tapi pagi itu dia gak SMS, mungkin dia sedang sibuk atau sedang di periksa dokter. Kemudian aku ingat kalau dia sudah berpulang, aku diam gak mau lagi nangis. Meja di kelaspun semakin banyak terisi. Teman baikku baru datang dan bertanya bagaimana keadaanku. Semakin banyak orang yang mendatangi dan berkata, “sabar ya..” itu membuat ku malah semakin ingat dan semakin tidak bisa menerima kenyataan itu. Meskipun gak mau nangis lagi, tapi air mata itu malah semakin deras mengalir. Pelajaran dimulai sampai sekitar jam 8.30 ada pengumuman melalui pengeras suara. Aku sudah tahu itu pasti berita duka. Benar.... dari pengumuman itu semua siswa diminta memberi belas sungkawa seikhlasnya dan meminta ikut melayat nanti jam 10 ke rumah duka. Hari ini semua siswa dipulangkan lebih pagi, karna semua akan melayat mengantarkan zaski pulang untuk yang terakhir kalinya.
Air mata ini tak kunjung surut juga. Sama sekali gak habis pikir. Hari Minggu kemarin sebelum hari terburuk ini. Zaski SMS, dia bilang hari Jumat tanggal 20 November 2009 dia sudah boleh pulang. Zaski tuh seneng banget dibolehin pulang, aku juga ikut seneng. Seneng banget malah. Dia janji mau nraktir aku dan semua temannya kalau sudah pulang besok. Iyaa kamu pasti sembuh kok, aku bilang. Sebelum hari minggu itu tepatnya malam Jumat sehabis magrib tiba-tiba Dia SMS minta maav atas semua kesalahan dia selama kita ‘bareng’. Hampir 1 bulan zaski dirawat di RS. Dan hari jumat itu harusnya aku pergi ke RS jenguk Dia bersama keluarganya. Tapi ada saja halangan sampai aku menunda rencana itu. Dan kita Cuma bisa komunikasi lewat telfon, SMS. Sudah Cuma itu yang aku bisa. Minggu sorenya Dia SMS kalau dokter gak jadi bolehin Dia pulang karna kondisinya malah turun. “sabar yaa..” aku bilang waktu kita telfon siang itu. Hari senin, selasa Dia gak ngasih kabar. Dan SMSku pun gak ada balesan. Aku mulai khawatir, rasa gak enak dan pikiran macam-macam muncul. Ternyata dari hari senin masuk ruang ICU, koma. Sampai akhirnya Dia memang benar pulang Minggu ini seperti janji dokter padanyaa. Iyaa Dia pulang di rumah terakhirnya....surgaa. rasa sesal mungkin sampai saat ini masih saat aku belum sempat dan gak jadi jenguk Dia di RS. Aku belum sempat melihat keadaannya di sana. Maav zaski aku gak ada di sana saat nafas tekahir kamu :’( rasa sesal ini selalu menyelimuti setiap hari selepas kepergiannya. Tapi untuk apa? Gak ada gunanya lagi menyesal. Itu sudah berlalu.
Pulang sekolah sekitar jam 10 semua murid sudah dibolehkan pulang, banyak sekali murid yang ikut melayat di sana. Sampai di rumah duka kita hanya melihat dari jauh, dan aku gak bisa lagi melihat wajahnya setelah hampir satu bulan gak pernah lagi bertemu. Acara pemakaman jam 2pm. Ini baru jam 10 tapi para pelayat sudah datang untuk mengucapkan turut berduka cita pada keluarga Zaski. Hari itu hujan, tidak lama ta’ziah dari sekolahku pamit pulang, dan kami semua pulang ke rumah masing-masing. Aku masih tidak percaya akan kejadian ini, aku masih berfikir zaski masih di rumah sakit masih dirawat.
Sampai di rumah, hujan masih lebat. Aku diam di kamar, memandang layar HP berharap ada SMS dari Zaski. Sampai tiba-tiba ada SMS dari teman baikku. Dia bilang mengajak ke acara pemakaman Zaski, dan tibalah temanku di rumahku. Kami ke rumah duka bersama orang-orang sedesa yang melayat. Saat itulah terakhir aku melihat Zaski untuk terakhir kalinya. Tapi bajunya berbeda tidak seperti biasanya. Dia terbungkus selembar kain putih dengan mata tertutup dan terlihat dingin, pucat. Aku merasa terpukul serasa luka yang tersiram perasan jeruk. Aku melihat zaski dimasukkan ke keranjang kemudian kain hijau itu menutup seluruh bagian keranjang yang di sebut keranda. Kemudian aku tak bisa lagi melihat Zaski, dia sudah tidak terlihat tertutup kain hijau itu. Saat bapak kiayi berkata “Laaailahaillallah...laaailahaillallah..” dan semua jamaah menirukan bersama keranda yang sudah di pundak pemuda-pemuda kemudian berjalan meninggalkan rumah duka. Sebagian ada yang tetap di sini dan ada yang ikut ke makam. Aku bersama beberapa orang ikut ke makam tapi tidak dibolehkan masuk, kami melihat dari luar pagar makam. Siang itu masih hujan yang lumayan lebat. Untuk terakhir kalinya aku melihat jasad Zaski di angkat kemudian diturunkan ke dalam rumah terkhirnya sebelum dia ke Surga. Tanah merah itu mengubur jasadnya bersama kenangan bersama orang-orang yang sayang padanya...termasuk kenangan saat kita bersama dulu. Sore itu semua orang berduka, sampai langitpun ikut menangis. Hujan tak kunjung reda seiriing tanah merah yang sudah menguburnya. Hati itu rasanya ngilu, kenapa harus Dia? Aku masih belum bisa terima saat itu. Kami pun pulang meninggalkan makam ke rumah masing-masing.
Hari setelah itu mungkin karna belum bisa menerima kenyataan, setiap malam aku masih saja mengirim pesan ke Hpnya. Setiap hari menunggu dia bales SMSku sampai akhirnya ada SMS dari nomor Hpnya yang isinya meyakinkan aku kalau zaski sudah gak ada lagi. SMS dari adiknya ternyata. Setiap sore aku sempatkan mampir di makam zaski, aku ingat menanam pohon bunga melati di atas tanah makamnya, sampai pohon itu berbunga aku sempat melihat:)
Hari-hari berlalu seperti biasa hanya saja aku gak lagi bersama Zaski. Aku gak mau terus berlarut dalam kesedihan itu. Semakin aku gak terima dia pasti malah sedih di sana. Aku harusnya bahagia karna Dia sudah bahagia di Surga. Dia pasti lebih bahagia di sana dari pada di dunia bersama rasa sakit yang dia rasakan setiap hari. Aku semakin mencoba mengihklaskan dia. Besok juga kita pasti akan bertemu lagi kok. Cuma sekarang belum saatnya kita bertemu lagi. Terimakasih Zaski sayang yang sudah membuatku belajar rasa kehilangan dan ikhlas. Kamu pergi meninggalkan kenangan manis untuk kami. Meskipun kamu gak bareng kita di sini lagi. Tapi apapun tentang kamu akan terus ada di hati kami. Aku dan semua teman-teman sayang kamu. Kami akan selalu berdoa untukmu. Aku akan selalu ingat hari bersejarah itu. 18 November setiap tahunnya aku akan selalu ingat dimana hari itu adalah hari bersejarah dalam hidup kita. Iya kita, aku dan kamu. Cuma raga kita saja yang berpisah. Tapi kamu akan selalu di hati kami selama-lamanya. Kamu akan selalu menjadi bagian dari hidupku. Kenanganmu akan selalu tersimpan sampai kami menyusulmu kelak. Semoga kamu selalu dalam dekapan-Nya, bahagia selalu di sana. Doakan kami semoga sukses dan bisa buat kamu bangga di sana. Persahabatan kita semua gak akan pernah terlupa, dan kisah kasih kita yang akan selalu menjadi kenangan yang terindah. 
We Love You Zaski Wildani :)




TINGGAL KENANGAN

pernah ada rasa cinta
antara kita kini tinggal kenangan
ingin ku lupakan semua tentang dirimu
namun bayangmu selalu ada dalam setiap langkahku

jauh kau pergi meninggalkan diriku
di sini aku merindukan dirimu
kini ku coba mencari penggantimu
namun tak lagi kan seperti dirimu

jauh kau pergi meninggalkan diriku
di sini aku merindukan dirimu
kini ku coba mencari penggantimu
namun tak lagi kan seperti dirimu oh kekasih

masih terlintas di mataku
gambaran wajahmu yang kini tinggal kenangan
ingin ku lupakan semua tentang dirimu
namun bayangmu selalu ada dalam setiap langkahku

jauh kau pergi meninggalkan diriku
di sini aku merindukan dirimu
kini ku coba mencari penggantimu
namun tak lagi kan seperti dirimu

jauh kau pergi meninggalkan diriku
di sini aku merindukan dirimu
kini ku coba mencari penggantimu
namun tak lagi kan seperti dirimu oh kekasih

Senin, 25 November 2013

#CerpenErika #part1 "Bohongmu Buat Hati Tersenyum"

Diposting oleh Unknown di 05.36 2 komentar
Aku adalah ? siapa ya. Sebut saja Rika. Kata film yang pernah aku tonton dibagian prolog isinya “siapapun kita pasti punya seseorang yang kita suka secara diam-diam, saat kita ingat orang itu kita merasa....sesak di dada. Tapi kita terus menyukainya. Walaupun kita tidak tahu dimana dia sekarang. Apa kabarnya? Tapi dialah yang membuatku seperti ini. Hal kecil yang disebut CINTA”. Seperti juga aku yang cerita saat sejak awal suka pada seseorang itu akan dilampirkan di cerpen yang lain. Karna di sini aku hanya ingin menulis tentang setiap kebohongan yang seseorang itu katakan mampu membuat hatiku tersenyum. Aneh kan? Tapi entahlah seseorang itu, sebut saja dia Bombai. Bombai yang mampu buat aku seperti ini. Saat dia berkata manis didepanku, contohnya: “rika, kamu makin cantik aja.” Padahal dia bohong, tapi itu membuatku senang. Yang lain? “iya rika, aku sayang sama kamu” hahaha itu SMS yang Bombai kirim ke aku, dan juga gak tau dikirim ke siapa aja. Saat dia gak SMS bilangnya lagi pingpong apa lagi tidur, tapi tidurnya 12 jam. Hehe Duhhh Bombai kamu tuh kayak cabai rawit, pedes sih tapi aku gak kapok makan :D malah nambah teruss..
Kalau kamu tahu ya Bombai, kamu bohong berkali-kali juga aku susah buat benci sama kamu, mungkin itu yang dimaksut Hal Kecil yang disebut Cinta. Hehe entah bagaimana hal kecil bisa mengexsplor ke seluruh bagian otakku. Logika ini kalah saat kamu sudah mulai bicara, kadang aku sadar kok, aku ini siapa kamu ._. tapi kamu sendiri yang buat aku ingin sekali berharap. Kamu yang datang di kehidupanku, membuatku seperti orang bodoh yang gak ada kapoknya di bohongin. By the way Bombai itu lulusan sekolah sastra apa ya? Emm kayaknya bukan deh, jelas-jelas Bombai masih kelas 2 SMK, haha tapi kata-kata dia tuh ngalahin kata-kata guru Bahasa Indonesiaku di sekolah lho. Hehe gimana juga aku tetep “IYA” kalau sama Bombai. Bombai kamu bohong ratusan kali aku masih Cinta sama kamu, apalagi kamu gak pernah bohong. Hehe :D saat kamu bohong, semua terasa biasa saja gak ada jengkel-jengkel apalagi marah sama kamu. Semua terasa gak ada yang bohong, gimanapun juuga aku tetep belain Bombailah. Oke Bombai makasih ya, kamu tetep Luar Biasa disini. Besok akan terbit lagi cerpen tentang kamu yang aku tulis sejak lama di Buku, Bombai part #1 part #2 part #3 dan seterusnya. Hehehe selamat malam Bombai :)
Tampilkan postingan dengan label CERPENKU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPENKU. Tampilkan semua postingan

Cinta si Anak Luar Biasa



Matahari kembali datang menyapa. Aku terbangun saat ku rasa ada bunyi nada monoton yang berbunyi tak jauh dari telingaku. “kringgg kringgg kringgg kringgg” suara alarm jam meja tua hadiah pemberian ayahku saat ulang tahunku yang ke-17. Menandakan jam sudah menunjukkan pukul 5.15 WIB. Aku coba membuka kedua pelupuk mata ini sembari tanganku mencoba meraih jam meja yang aku letakkan di atas meja, bersebelahan dengan kalender duduk, dan lampu hias kecil warna merah. “Bruuggghhhhhh...” “aduhhhhh” badanku malah terjatuh dari ranjang kayu dan terjuntai di atas lantai tanpa alas apapun.
Aku adalah mahasiswa rantauan asal Kulon Progo, DIY bagian barat yang kuliah di suatu perguruan tinggi ternama di Indonesia yang terletak di Yogyakarta. Mahasiswa Supersemar semester akhir dengan nilai-nilai dan prestasi akademik yang cukup memuaskan membuatku banyak dikenal teman-teman kampusku. Karena aku selalu mencoba menjalankan amanah dari ibu saat aku masuk kuliah pertama kali dulu, “kuliah yang benar, pesan ibu satu. Belajar menundukkan kepala, bertanya kepada siapa saja yang bisa kamu anggap guru. Dan selalu memakai ilmu padi yang semakin berisi semakin menunduk.”
Ku buka gorden warna merah jambu yang semampai di balik jendela tua, dan ku buka pula jendela tua itu sampai angin dan cahaya pagi masuk ke dalam kamar kosku di lantai 2 ini. Pagi ini begitu cerah, terdengar suara ayam jago yang sepertinya sedang latihan berkokok atau sedang memikat ayam betina milik tetangga kos ku itu.
Segera aku menuju ke kamar mandi karena rasa ingin segera mengguyur muka dengan air wudhu. Ternyata harapanku tak berjalan begitu mulus, terlihat terlalu banyak antrian orang-orang yang ingin mengguyur muka mereka juga. Beginilah derita anak rantauan yang setiap pagi harus mengantri lumayan lama, beberapa menit yang seharusnya bisa digunakan untuk hal yang lain tapi harus digunakan untuk mengantri mandi. Malas rasanya saat pelupuk  mata belum bisa terbuka harus berdiri antri seperti ini. Aku pergi menuju kran air yang sudah mulai karatan di samping kamar mandi, sholat dulu biar nanti mandi setelah sholat pikirku. Segar sekali rasanya terguyur air wudhu ini, Subhanallah.
Jilbab besar yang disebut mukena warna putih bercorak bunga dan bordir pink meski warna pinknya sudah banyak yang mulai luntur karena sering dicuci sudah ku pakai rapi. Mukena ini pemberian ibuku saat pertama masuk kuliah dengan pesan supaya aku tidak pernah melalaikan sholatku agar kuliahku berjalan lancar dan dimudahkan dalam segala hal. Selesai dua rokaat pagi ini tak lupa aku panjatkan doa untuk ibu dan ayahku di rumah agar mereka sehat selalu.
 “Allahumafirlanaa dzunubanaa waliwalidainawarkhamhumaa kamarobbayaanaashoghira Ya Allah ampinilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, dan kasihanilah mereka seperti mereka mengasihiku sewaktu aku kecil. Amin ya Rabbal’alamin”
Usai berdoa dan berdzikir aku melipat mukena putih yang sudah mulai lusuh ini dan meletakkannya di lemari kecil bersama baju-bajuku. Aku bergegas mengambil handuk dan segera kembali ke kamar mandi dimana tempat orang-orang berantri panjang tadi. Sampai di tempat terlihat tinggal sedikit orang, tinggal tetangga sekaligus teman sebelah kamarku. Kami sama-sama pejuang yang merantau jauh dari orang tua hanya ingin membuat orang tua kita menangis bahagia, bangga melihat kita kelak memakai baju toga lengkap dengan topi toga itu. Dan aku akan menyeka embun di kedua pelupuk mata ibuku nanti.
Jam menunjukkan pukul 8.00 WIB, setelah berdandan rapi dengan hem coklat dan rok hitam serta jilbab krem bermotif bunga-bunga aku bergegas pergi ke kampus. Sambil menunggu ada ‘bus tuyul’ yang lewat aku mengamati sekitar daerahku tinggal. Terlihat sudah sepi, hanya tinggal ibu-ibu yang menyapu dan berberes latar mereka. Tak lama kemudian, ‘bus tuyul’ yang ku nanti-nantikan akhirnya datang. “Jl. Colombo, Karangmalang, Pak!”
Kelas dimulai pukul 9 dan hari ini adalah pembagian tempat pembekalan KKN. Hari-hari kuliah terasa cepat sampai tidak terasa aku akan memasuki semester 8. Semester terakhir dan tahun wisudaku. Dosen membagikan tempat-tempat dimana kami akan mendapatkan pembekalan beserta kelompok KKN-nya dan kelas pun berakhir. Pagi itu aku mendapat tempat pembekalan di Jl. Tamansiswa di suatu gedung lembaga.
Aku sedikit mengeluh setelah acara pembekalan KKN selesai, karena mendapat tempat KKN yang cukup jauh dari kos, dan tempatnya lumayan terpencil jauh dari keramaian. “Jalani saja, mungkin akan menyenangkan hidup di desa. Kamu akan dapat banyak pengalaman baru nduk.” Kata ibu saat aku mengeluh padanya lewat telepon wartel samping kos.
Hari ini adalah hari pertama keberangkatanku KKN. Dan tidak akan pulang sebelum 1 bulan atau setelah tugas KKN ini berakhir. Semalam sudah aku persiapkan semua kebutuhan dan peralatan yang diperlukan sebulan di sana. Berat sekali isi koperku ini, bagai mau pergi merantau lagi di daerah yang lebih jauh. Setelah berkumpul dengan teman-teman satu kelompok KKN kami berangkat dengan berboncengan motor. Barang-barang kami angkut dengan mobil pick-up karena terasa sangat banyak barang bawaan kami.
Tibalah kami di sebuah desa yang sangat jauh dari keramaian, Desa Tanjungsari. Desa yang begitu hijau dengan pohon jati dan pohon pisang dimana-mana. Rindang sekali desa ini, dan tidak terlihat ada gedung pencakar langit sepanjang mata memandang. Udara begitu segar, jauh dari udara di kota. Pemukiman penduduk juga masih jarang-jarang, jarak antar rumah bisa sampai 100m lebih, begitu asri Tanjungsari ini.
Sampai di rumah kepala desa, kami disambut oleh Bapak kepala desa yang kami kenal bernama Pak Sosro dan Ibu kepala desa Ibu Tina. Kami dipersilakan masuk ke dalam ruang tamu Pak Sosro, di dalam Pak Sosro memberikan sekilas info tentang Desa Tanjungsari ini. Dan tempat-tempat yang mungkin penting bagi kami, seperti warung, puskesmas dan sekolahan. Setelah selesai berbincang dengan Pak Sosro dan minuman sudah tinggal beberapa tetes Pak Sosro mengajak kami ke rumah kosong yang akan kita tempati selama sebulan ini.
Tidak jauh dari rumah Pak Sosro, rumah kecil dengan teras kecil bercat putih yang sudah mulai mengelupas. Aku bersama Ninik, Anik, Sri, Ning dan teman laki-laki Didik, Yono, Tegar membawa masuk semua perlengkapan yang kami bawa dari mobil pick-up. Satu kamar untuk aku, ninik, dan anik. Satu kamar untuk Sri dan Ning. Dan satu kamar untuk laki-laki. Tidak begitu kecil rumah ini, sekiranya sudah cukup untuk 8 orang.
            Jam menunjukkan pukul 7 malam, setelah sholat berjamaah di masjid bersama kawan lain, kami berkumpul di ruang tamu untuk diskusi masalah proker selama KKN. Setiap pagi selama KKN kami akan mengajar di suatu sekolah yang istimewa. Setingkat dengan SLTA, tapi sekolah ini lebih luar biasa karena kami akan mengajar di Sekolah Luar Biasa tingkat SMA di SLB Binajiwa. Kesan awal, aku sama sekali tidak yakin bisa mengajar di sekolah itu karena aku sama sekali tidak punya pengalaman mengajar anak-anak istimewa titipan Illahi ini.
            Kami beranjak tidur dan pergi ke kamar masing-masing setelah pembahasan proker selesai, berharap segera ingin matahari kembali menyapa.
            Pagi ini adalah hari pertama kami datang di SLB Binajiwa, selesai pembagian tugas dan tanggung jawab kelas yang harus diajar oleh Ibu Kepala bagian personalia, kami segera masuk ke kelas masing-masing. Aku bersama Ninik masuk ke kelas 11A yang berisi 20 anak. Ada 13 anak laki-laki dan sisanya perempuan. Wajah polos mereka dengan segala kekurangan yang mereka miliki membuat hatiku bergetar, bangga rasanya aku berdiri di depan mereka. Aku memperkenalkan diri di depan kelas dan mendapat sambutan dari mereka, senyum lepas mereka begitu semangat menjawab salamku, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang aku tanyakan pada mereka. Mereka begitu polos, tertawa lepas seakan tidak ada beban pikiran di hidup mereka. Bahagianya, aku sangat terhibur dengan adanya mereka di sekelilingku. Padahal umur mereka yang rata-rata seumuran dengan kami, ada pula yang lebih tua dari kami mahasiswa semester 7.
            Setiap pagi aku semangat sekali berangkat ke sekolah SLB ini. Sampai suatu hari di kelas saat murid yang bernama Budi mengikutiku kemana saja aku pergi. Budi Yulianto anak orang kaya dan terpandang dari Jepara dan terlahir cacat mental, dia pun diasingkan oleh keluarganya di SLB Binajiwa di daerah Tanjungsari yang sangat terpencil. Setiap jam pelajaran selesai dia menangis, dia tidak ingin aku keluar dari ruangan. Apapun yang dia lakukan dia akan selalu ingin di dekatku. Aku tidak merasa aneh sama sekali, justru bahagia jika ada muridku yang dekat denganku.
            Matahari mulai terlihat makin bersembunyi di balik garis katulistiwa membuat bumi Tanjungsari ini sedikit teduh. Awan mulai menjinggakan dirinya dan aku sendiri segera melepaskan penat seharian ini. Merebahkan tubuh di atas tempat tidur tanpa ranjang milik Pak Sosro. Melamun sebentar melepas segala penat dan keringat seharian ini, dan seseorang memanggil namaku membuyarkan lamunanku. Segera aku beranjak dari tempat tidur karena Anik memanggilku karena ada seseorang yang mencariku, ternyata Budi. Aku segera keluar menuju ruang tamu dan tidak melihat Budi di ruangan itu, terlihat meja tua milik Pak Sosro bergerak dan aku tahu itu Budi yang bersembunyi di kolong meja. Entahlah aku tidak mengerti motivasi dia. Aku suruh dia keluar dari kolong meja lalu mengajak dia duduk di kursi tamu diruangan itu.
            Hari-hari selanjutnya kerena tugas kami mengajar murid-murid sekolah SLB Binajiwa membuat rumah kami setiap hari ramai dengan murid-murid yang ingin belajar bersama dirumah, termasuk Budi. Setiap hari dia datang dan seperti biasa dia selalu bersembunyi di kolong meja sampai aku menyuruhnya keluar dari sana, ternyata dia malu. Sampai pada suatu malam minggu aku kedatangan tamu teman laki-laki dari posko KKN sebelah desa saat Budi juga sedang di rumah poskoku. Dia ngambek dan bersembunyi di balik pintu enggan juga keluar sampai teman laki-lakiku pulang.
            Suatu hari Ninik teman sekamarku memberiku selembar surat dengan amplop warna pink entah isinya apa. “Ini dari Budi, katanya untuk kamu” kata Ninik sembari memberikan surat itu. Di dalam amplop itu ada selembar surat dengan surat warna pink dengan animasi bunga-bunga dan tercium seperti ada bau parfum di kertas itu.
                        “Nama: Budi Yulianto
                        Nama Ayah: Yadi Yulianto
                        Nama Ibu: Purwanti Yulianto
Nama Adik: Adi Bakti Yulianto”
Begitulah isi surat itu, aku sungguh tidak mengerti arti dari surat itu. Mungkin hanya iseng karena sudah bisa menulis dan mempraktikan seperti yang di ajarkan di sekolah.
            Pagi ini aku bertemu Budi di sekolah, aku menyapa dan mengajaknya senyum. Tapi entah apa yang ada dalam pikirannya, dia seperti marah padaku. Dengan muka kesal, bibir manyun membuatku tertawa sendiri dalam hati karena aku tidak merasa punya salah apapun padanya. Siangnya ada surat yang sama lagi aku terima, dengan amplop dan isi yang sama persis. Aku belum juga paham maksud Budi mengirim surat ini. aku menganggapnya biasa saja karena memang ada yang kurang pada dirinya. Saat bertemu di sekolah sehari setelah surat itu aku baca, dia bermuka lebih kesal dan ternyata aku tahu dia kesal karena aku tidak membalas surat yang dia kirim. Dan itu berlanjut sampai ada setumpuk surat dari Budi yang isinya sama.
            30 hari sudah kami mengabdi pada desa Tanjungsari dan SLB Binajiwa, tidak terasa sudah saatnya mengucapkan selamat tinggal pada teman-teman luar biasa yang kami ajar di SLB Binajiwa. Teman-teman yang menumbuhkan semangat belajar kami untuk meneruskan perjalanan pendidikan kami lebih tinggi lagi dengan segala kekurangan mereka, mereka bisa punya semangat untuk menuntut ilmu.
            Hari ini adalah hari terakhir mengajar di kelas SLB Binajiwa, berpamitan dengan anak-anak tapi sepertinya mereka tidak berkenan memberi ijin kami pulang. “semangat teman-teman, kalian istimewa dan luar biasa.” Kami pun pulang dengan membawa kenangan dari SLB Binajiwa yang akan selalu ada di hati kami, senyum anak-anak luar biasa yang tidak akan kami lupakan.
            Sore ini setelah membereskan segala pakaian dan barang-barang kami berpamitan dengan Pak sosro, karena kami juga sudah mengadakan perpisahan kecil di kampung tadi malam, kami langsung bersiap untuk perjalanan menuju kota. Tapi muridku Budi yang ikut membantu membereskan barang-barang kami, tidak mengijinkan aku pulang, dia merengek menangis menahanku agar tidak pergi. Dan akhirnya kami pulang setelah Budi di tenangkan oleh Pak Sosro dan Istri setelah aku berjanji akan datang lagi untuk menjenguknya.
            Hari-hari disisa akhir kuliahku berjalan begitu cepat. Aku masih dengan keseharianku di kos dan tugas sekeripsi tentunya yang sudah menantiku untuk selangkah maju menuju baju toga itu. Siang ini aku hanya menganggur dan bosan sekali di kos, tidak ada aktivitas menyenangkan yang bisa aku kerjakan sampai tiba-tiba aku di panggil teman kamar sebelahku. Terdengar ramai diluar sepertinya ada hal yang tidak biasa, ternyata aku kedatangan tamu dari desa Tanjungsari. Aku begitu kaget melihat sosok orang dengan badan besar tinggi, berkumis tipis dan brewok tipis di dahinya. Orang itu berumur sekitar 28th, dia adalah Budi murid SLB Binajiwa. Tidak kaget kalau kos-kosan mendadak heboh karena ada anak SLB yang mencariku.
            Aku sama sekali tidak menyangka Budi bisa sampai ke tempat kos ku yang berjalak jauh dari desa Tanjungsari, aku melihat ditangannya menggenggam kertas bertuliskan “Dari jalan pahlawan Tanjungkarang naik bus Mahardika sampai ke terminal Sukokiwo. Lalu naik BUSKencana bilang sama Pak  Kenek Busmau ke Terminal Giwangan. Lalu turun dan cari Buslagi jurusan Jogja kota baru. Lalu naik BusTuyul sampai ke desa Babarsari RT 4 gang Pandan wangi”. Selembar surat itu dari guru Budi di SLB Binajiwa.
            Aku mengajak Budi jalan-jalan sebentar lalu mampir di warung kopi di Desa tempat aku kos. Banyak juga yang bertanya termasuk Ibu pemilik warung kopi, “adiknya ya mbak?” bingungnya aku mau menjawab apa. Senyum kecil isyarat untuk Ibu pemilik warung kopi, dan semoga Ia paham. Selesai makan aku mengantar Budi ke terminal dan mencarikannya bus yang langsung menuju ke Tanjungsari.
            Sore ini aku mencoba berkelut dengan sekeripsiku, panas dan begitu penat melihat lembar-lembar kertas yang tak kunjung selesai. Tiba-tiba ada Ibu kos yang mengetuk pintu kamarku, aku segera membukakan pintu dan mempersilahkan Beliau masuk. Aku terkejut saat Ibu Kos memberikan kabar tentang kabar Budi yang sekarang sedang Opname di JIH (Jogja International Hospital). Keluarga Budi memintaku untuk datang ke Rumah Sakit atas permintaan Budi karena menurut informasi dari Ibu Kos dia demam tinggi dan mengigo memanggil-manggil namaku. aku segera bergegas mandi dan bersiap ke JIH sore ini juga.
            Sesampai di Rumah Sakit aku langsung menuju ke bagian informasi untuk menanyakan di kamar mana Budi di rawat. Segera aku menuju kamar kelas 1 dan aku mengintip sedikit di balik gorden pintu, aku melihat Budi yang matanya tertutup tapi mulutnya seperti masih berteriak-teriak. Aku beranikan diri untuk masuk menemui Budi dan keluarganya. Aku pegang tangannya dan berkata “Aku di sini Budi, menjenguk kamu. Budi apa kabar?”. Dia membalas memegang tangaku dan membuka matanya, dia terlihat begitu gembira dengan senyum polos selalu dia berikan padaku dulu. Badannya memang panas dan sepertinya keadaaannya buruk.
            Jam kunjung Rumah Sakit sudah habis karena sudah lebih dari jam 8 malam. Aku ingin segera berpamitan dengan Budi dan keluarganya. Tapi Budi mengamuk dan benar-benar tidak mengijinkankku untuk pergi. Dia memegang tanganku erat-erat sambil tetap berteriak-teriak meminta Ibu dan Ayahnya untuk menahanku tetap di sana. Perasaanku campur aduk, dari yang awalnya ragu untuk datang memenuhi permintaan orangtuanya dan sekarang ditambah aku yang tidak di ijinkannya pulang. Ibunya terlihat meneteskan air mata tersirat harapan agar aku tetap di sini menemani sisa hidup Budi. Ada bagian di air mata Ibu Budi yang mengerti perasaanku, tidak mungkin aku mengorbankan hidupku untuk menemani Budi mengorbankan masa depanku yang masih panjang ini. Dan akhirnya dengan terpaksa aku harus meninggalkan Budi yang keadaannya masih buruk dan berharap dia segera sehat kembali. “semoga lekas sembuh ya Budi, aku selalu berdoa untukmu. Kapan-kapan aku akan main ke rumahmu kalau kamu sudah sembuhJ”, meskipun Budi tetap mengamuk dan menangis akan kepergianku malam itu.
            Berbulan-bulan lamanya aku memendam cerita cinta si anak luar biasa itu tanpa ada siapapun yang tahu kecuali Budi dan keluarganya. Sampai suatu hari aku mendengar kabar yang kurang menyenangkan dari teman KKNku dulu. Kabar duka dari Budi Yulianto yang sekarang sudah berpulang dan meninggalkan puing-puing kenangan di hati diumurnya ke-30. Kisah cinta si anak luar biasa yang ternyata endingnya kurang menyenangkan. Dan aku memutuskan untuk menyimpan cerita ini sebagai kenang-kenangan darinya entah kapan kisah ini akan aku kisahkan.
            Rahasia Ilahi yang tidak pernah terfikirkan olehku, yang ternyata anak yang terlahir dengan kekurangannya ternyata bisa merasakan rasanya jatuh cinta seperti manusia pada umumnya. Mungkin hanya sedikit fisik dan mentalnya yang terlahir tidak sempurna tapi hati dan perasaannya terlahir sempurna seperti layaknya manusia yang terlahir normal fisik maupun psikis. Semoga di Surga kelak kita akan bertemu lagi, Budi.
TAMAT


Desy Afrida Hardiyati, 11 April 2015
Cerpen ini dibuat atas inspirasi dari guru tercinta Ibu Samilah, teruntuk beliau dan Budi yang akan selalu menjadi bagian dari cerita hidup Ibu :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kekasih Pulau Sebrang

Ditulis Tanggal 15 September 2014


Aku adalah seorang pelajar di salah satu sekolah menengah kejuruan di Yogyakarta. Dan tahun ini aku akan menempuh Ujian Nasional untuk mengakhiri masa putih abu-abuku. Dan ditahun ini pula Joo, akan melaksanakan wisuda S1nya di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta dan akan meninggalkanku di kota istimewa ini sendirian untuk kembali ke tanah kelahirannya. Joo adalah seorang mahasiswa semester akhir yang bukan berasal dari kota istimewaku ini. Dia senior yang aku kenal di sekolah dulu, sudah satu tahun ini kami menjalin hubungan. Kami berkenalan saat ada acara di salah satu sekolah yang melibatkan siswa-siswi SMA dan mahasiswa bertemu dalam satu event.
Entah bagaimana kita bisa berkenalan hingga akhirnya dekat dan menjalin hubungan. Aku ingat saat dia mengajakku jalan untuk pertama kalinya, dan saat dia menyatakan cinta di tepi pantai sore itu. Aku selalu merindukan saat-saat bersamanya dulu.
Ujian Nasional pun berakhir dan di bulan ini lah Joo melangsungkan wisudanya. Betapa berat hati ini melepas kepergian kekasih hati. Dan aku pun tak tahu kapan kita bisa bertemu kembali. “Hati-hati sayang! Aku akan selalu merindukanmu,” kataku sambil memeluknya di ruang tunggu tempat pengantaran terakhir di bandara siang itu. Tak peduli berapa pasang mata yang memandang kami. “Jaga diri kamu baik-baik, aku pasti kembali”, katanya sembali mengusap air mata yang berlinang di pipiku.
Joo mengecup keningku seolah tak ada seorang pun di tempat itu. Suara mbak-mbak wanita yang mengisyaratkan pesawat yang ditumpanginya akan segera lepas landas menambah kegelisahan hatiku. Aku mencoba melepaskan genggaman tanganku dari jari-jarinya yang sedari tadi enggan aku lepaskan. Anak kecil yang duduk tidak jauh dari dariku entah sengaja atau tidak memutar lagu di Hpnya, “bersabarlah sayang, aku akan pulang. Jangan dengarkan gosip belaka tentang aku. Bersabarlah sayang aku akan pulang.....”
Perpisahan memang tidak ada yang mudah sekalipun itu menjanjikan kebahagiaan. Aku seakan tidak siap untuk menjalani hari sendiri tanpanya. Yang biasanya kita selalu makan di warung nasi rames itu berdua, dan setiap aku tidak bisa menghabiskan nasinya. Aku akan menyuruhmu untuk menghabiskannya sampai ke tulang-tulangnya, kini aku hanya bisa makan sendiri dan ku buang sisa nasi yang tidak habis itu. Tidak ada lagi yang aku jambak rambutnya saat aku kesal karena rambut itu tidak juga di potong, bahkan sudah seperti sarang burung. Tidak ada lagi yang mengambil foto pose alay dan aku ajak selfie saat jalan-jalan di pantai, gunung, sawah, taman, bahkan Malioboro yang dulu rajin kita kunjungi. Tidak lagi ada suara yang khas yang katanya mirip Judika itu sepanjang jalan aku mengendarai motor. Karena biasanya aku harus mendengarkan puluhan lagu yang kamu nyanyikan sepanjang jalan bak mendengarkan radio tanpa berhenti bernyanyi. Tapi semua itulah yang aku selalu rindukan.
Bulan pertama terasa begitu asing ketika aku dan dia yang dulunya selalu bersama kini nyaris tidak pernah bertemu selain di dalam mimpi dan khayalan. Rasa rindu yang kian menyiksa setiap detiknya terus dan terus saja tak henti-henti menyerang lubuk hati ini. Bertukar cerita saat larut datang adalah cara kita untuk melepas sejenak rasa rindu yang bergejolak ini. Sering kali tiba-tiba telepon mati setelah berjam-jam menelpon lalu ada SMS masuk, “sayang pulsa habis kesel banget sumpah!” Dan akulah yang selanjutnya akan menelponnya sampai pulsaku pun ikut habis sebelum kami puas.
Andai ada makelar rindu yang bisa membeli rasa rindu, mungkin kekayaanku melebihi kekayaan Bapak Aburizal Bakri yang jadi orang terkaya masa kini di Indonesia. Setiap malam aku selalu menyempatkan diri untuk melihat foto-foto kita dulu saat bersama di laptopku. Oh, menatap fotonya seperti hanya meneguk setetes air di gurun pasir. Mungkin jika operator bisa menyadap SMS kami, mungkin dia akan bosan mendengar berkali-kali bahkan berjuta kali kami berkata rindu.
Setiap hari kami selalu menyempatkan diri untuk mengobrol di telepon, dia sering menyanyikan lagu bersama gitarnya yang dulu sering kita pakai untuk bernyanyi berdua.
“Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya, menahan rasa ingin jumpa. Percayalah padaku aku pun rindu kamu, ku akan pulang melepas semua kerinduan yang terpendam.”
Lirik lagu yang selalu menempel di hatiku, lagu yang sering dia nyanyikan lewat telepon.
          Memasuki tahun kedua perpisahan kita aku sudah mulai terbiasa melewati kesendirian ini. Rasa cemburu sering kali terbesit di pikiranku, wajar saja kerena aku benar-benar tidak bisa melihat apa pun yang dia lakukan di sana. Kadang aku sering kesal saat dia tidak menghubungiku seharian sampai larut. Tapi aku harus bisa mengerti kapan aku harus memberi dia perhatian, dan mengerti saat dia tidak ingin diganggu. Kerena di sana sudah memasuki dunia kerja, cerita terakhirnya lewat telepon kemarin dia sudah mulai mengajar di salah satu sekolah swasta di kotanya. Dan aku sendiri sudah mulai sibuk dengan tugas-tugas kuliahku. Di sinilah kita harus bisa saling mengerti.
          Memasuki kesibukannya yang sekarang sudah menjadi mengajar tetap, membuat Joo sibuk dengan dunia barunya. SMS berisi “sudah makan? Lagi apa sayang?” sudah mulai jarang aku terima. Malam ini aku mencoba menghubunginya dan bertanya, “sibuk banget ya Pak Guru?” Beberapa saat kemudian ada SMS masuk dari Joo, “maaf banget bukan maksud gak hubungin kamu.....” Mengerti dan mengerti yang hanya bisa aku lakukan saat ini. Meskipun dalam hati aku rapuh dan butuh pundak untuk bersandar, layaknya perempuan yang juga butuh diperhatikan. Aku hanya meminta waktu larutnya sebentar saja, biar aku terima pagi, siang, sorenya dia habiskan untuk kesibukannya. Tapi tolong untuk larut saja sisakan untukku. Untuk sekadar melepas rindu lewat telepon saja.
          Siksaan LDR ini tidak terasa 2 tahun sudah kita lewati bersama, banyak yang bisa aku ambil dari pohon LDR ini. Sebongkah kepercayaan saja modal kita satu sama lain. Kesabaran dan penantian sudah akrab di telinga kami. Di masa kuliahku yang hampir memasuki semester 5 tidak sedikit godaan yang menggoyahkan kesetiaan ini. Tapi tak sedikit pun terbesit pikiran akan berpalilng dari Joo. Meskipun terkadang terlintas keraguan tapi aku selalu mencoba percaya karena hanya itu saja modal yang kami punya. “pacar kamu mana? Cie cie jomblo ya? Udah deh cari aja yang baru,” “kamu gak takut di sana ditinggal cari sampingan?” kata-kata seperti ini sering kali terdengar dari mulut teman-temanku. Terlalu panas telinga ini karena terlalu sering mendengarnya, tapi selalu aku coba membesarkan hati dan menjawab singkat, “aku yang mengenal dia bukan kalian. Soal sampingan itu tergantung orangnya.”
          Hubungan ini mengajarkanku bagaimana menghargai satu sama lain, belajar bersabar dan melawan seribu rasa kesepian. Aku menjadi tahu seberapa berharga seseorang saat dia tidak bersama kita lagi. Besarnya cintaku pada Joo tidak akan aku menukarnya hanya karena rasa kesepian ini. Karena keyakinanku hanya satu, hanya menunggu waktu. Dan kebahagiaan ini akan terpuaskan.
          “sayang kamu libur kapan?” tanyaku lewat telepon disuatu malam yang cukup sepi. “Bulan depan setelah tahun ajaran ini selesai, insyaallah libur satu bulan. Aku ambil cuti.” Jawabnya datar terlihat lelah atas sehariannya yang sibuk. “Aku pasti jenguk kamu, kamu yang sabar,” kata-kata yang paling sering sekali aku dengar dari telepon genggamku ini. Rasa rindu yang menusuk ini sering kali membuat embun di kedua pelupuk mataku. Aku hanya bisa berdoa agar segera Tuhan Allah cepat pertemukan kami.
          Minggu pagi yang cerah, dengan awan yang biru merekah dan burung-burung yang bernyanyi dengan kicaunya, menambah semangatku hari ini. Hari ini free tanpa jadwal apapun, hanya berbaring di tempat tidur saja sedari pagi. Tiba-tiba HP pun berbunyi, 1 pesan di terima dari Joo, “Aku sampai Jogja jam 1, kamu bisa jemput sayang? Aku tunggu di bandara. I Love U,” satu kalimat yang membuat ku sedikit shock dan tidak bisa berkata apa-apa. Sudah 2 tahun ini kami benar-benar tidak bertemu, dan tiba saatnya kita akan bertemu lagi. Begitulah rasanya, tidak mampu lagi di gambarkan. Rasa rindu yang meletup-letup ini seperti layaknya seekor anak ayam yang tersasar kemudian bertemu ibunya. Ingin segera memeluk erat ibunya. Tidak pikir panjang aku langsung membalas pesan itu, “I love U too.”
          Segera aku bergegas lari dan bersiap-siap untuk segera pergi ke bandara. Jam menunjukkan pukul 11, aku tidak sabar lagi menunggu jam 1 tiba. Mungkin rasa bahagia ini jika dilukiskan di kain kanvas akan menghabiskan ber-meter-meter kain kanvas. Ingin segera aku berjumpa dengan pencuri hati itu, sudah tergambar dalam pikiranku bagaimana keadaannya sekarang. Apa dia sekarang mendadak putih mirip Justin Bieber? Apa dia sekarang hitam seperti Bapak Obama? Uh aku tidak sabar lagi untuk pertemuan ini.
          Dengan baju warna putih bercorak bunga-bunga manis dan hijab dominan merah serta sepatu yang tidak kalah ceria aku segera bergegas menuju bandara. Sesampai di bandara pukul 13.00 WIB aku menuju ke tempat ruang tunggu yang dulu adalah tempat perpisahan kita serta menjadi pertemuan terakhir kita. Suasana ramai oleh pengunjung yang mungkin menjemput atau sedang menunggu pesawatnya tiba. Mungkin juga ada yang bernasip sama denganku, menanti kekasih hatinya turun dari burung besar yang membawanya meninggalkanku itu.
          Waktu menunjukkan pukul 13.20 WIB aku sudah tidak sabar lagi menanti Joo datang, tapi entah kenapa tak kunjung terlihat batang hidungnya. Aku coba kirim sepatah kata lewat SMS, “sayang aku udah di ruang tunggu. Kamu udah sampai?” Joo membalas pesanku tanpa menunggu lama, “Pesawatku dellay jam 3 sore baru sampai sayang, gimana?” “Yasudah aku tunggu. Take care honey.” Ouggh harapanku ingin segera bertemu kekasih hati harus tertunda, dan aku harus menunggu lebih lama.
          Hati semakin gelisah dan rindu ini semakin berkecamuk, terbesit pikiran sambi menunggu jam 3 aku mencoba menunggu di kantin bandara. Sekedar melepas kejenuhan, karena memang menunggu itu membosankan. Aku memesan minuman dan semangkok bakso kepada wanita setengah baya yang berpakaian rapi warna putih celana hitam itu. Wanita itu mendatangiku beberapa saat setelah aku duduk di kursi kantin.
          Beberapa saat kemudian wanita paruh baya yang ku tahu dia adalah pelayan di kantin itu datang membawa baki berisi minuman dan bakso yang aku pesan, “silahkan non baksonya. Ada lagi?” Tiba-tiba suara yang tidak asing bagiku menjawab dari arah tidak jauh dariku, “tambah bakso satu ya buk, sama es teh.” Tidak fikir panjang lagi aku tengok ke arah suara itu. Dan benar saja, rasa tidak percaya itu adalah Joo. Batang hitung yang sedari tadi aku tunggu-tunggu kini akhirnya datang juga. Dia bohong kalau pesawatnya sampai Jogja jam 3. Uhh! Dia tetap saja terlihat manis dengan rambut ikalnya dan senyumnya yang khas.
          Rasa haru, sedih, bahagia, kaget bercampur aduk dalam benak hati. Aku langsung berdiri dan memeluknya tanpa menghiraukan berapa pasang mata yang menatap ke arah kami. Wanita pelayan kantin yang sedari tadi melihat kami hanya tersenyum lalu berlalu masuk ke dalam dapurnya untuk membuatkan pesanan Joo atau mungkin pelanggan lain. Tubuh ini enggan melepaskan pelukan ini, hanya ini yang jiwaku inginkan saat ini. Pelukan hangat yang hampir tidak pernah lagi aku rasakan.  Tidak bisa digambarkan lagi bagaimana rasa senang dalam hati ini, setelah 2 tahun kita berpisah dan akhirnya Tuhan Allah mempertemukan kita lagi.
          Joo akhirnya mencoba menyuruhku untuk melepaskan pelukan kita. Dan kami pun duduk di kantin bandara menunggu  makanan Joo yang tadi dipesan. Betapa bahagia hati ini Tuhan, trimakasih.
          Sebulan ini kita lewati hari-hari bersama, kita kembali menyusuri tempat-tempat yang dulu kita pernah kunjungi. Sekadar flashback kenangan-kenangan kita dulu, dan seakan semua seperti saat dulu kita menghabiskan waktu di kota istimewa ini. Rasa rindu ini puas terbayar sudah tanpa sedikitpun yang tersisa. Pertemuan ini hanya seperti mimpi dan angan-anganku saja.
          Sampai akhirnya tiba saatnya Joo harus kembali ke tanah kelahirannya untuk melanjutkan kewajibannya di sana. Lagi dan lagi aku harus merasakan perpisahan yang menyebalkan ini. Andai boleh aku ingin ikut bersamanya atau dia yang aku tahan untuk tidak pergi lagi. Dengan wajah cemberut dan kesal karena tidak ingin ada perpisahan aku mengantarkannya lagi ke bandara, satu-satunya tempat kenangan dan penuh harap. Aku tidak rela dia meninggalkan ku lagi di kota ini sendiri. “Aku gak mau kamu pergi lagi,” kataku tanpa melepaskan genggaman tangannya. Dengan senyum dan penuh harap dia menjawab, “tenang sayang, aku hanya pergi sebentar. Tahun depan setelah kamu wisuda aku akan datang lagi ke rumahmu membawa kedua orang tuaku dan tidak lupa membawa cincin untuk melamarmu. Makanya kamu kuliah yang rajin biar cepat lulus. Semakin lama kamu lulus semakin lama pula pertemuan kita nanti.” Air mata ini tak kuasa lagi ku bendung, dan mengalir membasahi pipi yang sedari tadi memerah. Aku hanya mengangguk ternyenyum dan meyakinkan diri, dan pelukan terkahir ini mengantarkannya untuk pulang. Satu harapan dia berikan sore itu ku bawa pulang dan ku simpan baik-baik sampai kelak Tuhan Allah mempertemukan kita lagi. Tidak hanya sekadar pertemuan singkat, tapi pertemuan yang mengantarkan kami ke pintu kebahagiaan. Terimakasih Tuhan Engkau beri kami kesempatan untuk bertemu. Terimakasih 
             Namun ceritaku tidak berakhir manis, Jarak adalah yang selalu dipersalahkan ketika pasangan LDR berpisah. Alih-alih ketidakmampuan mereka menjaga komitmen. Akhirnya kami dipisahkan oleh banyak hal, bukan aku tidak mau berjuang lagi. Hanya aku tak mampu bertahan terlalu lama pada keadaan seperti ini.

Cerita ini kebanyakan hanya fiktif belaka, hanya segelintir pasangan LDR yang berhasil, LDR adalah dimana rumah kamu dan dia tidak mampu ditempuh beberapa jarak. Bukan pasangan yang tinggalnya berjauhan dikarenakan si dia bekerja atau hal lain karena keadaan ini cepat atau lambat dia akan pulang kerumah. Namun tidak ada yang tidak mungkin jika sama-sama ada usaha, pengorbanan banyak dibutuhkan untuk pasangan LDR sesungguhnya seperti ini. Maaf jika ada kesamaan tokoh, cerita, watak penulis mohon maaf.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

CERPEN TENTANG LAGU TINGGAL KENANGAN UNTUK ZASKI

Selamat Malam Teman :) pagi ini sebelum berangkat sekolah karna masuk siang, jam 10 pagi aku nonton sinema pagi di salah satu stasiun televisi nasional. Judul FTVnya “Gabby dan Lagunya” sinopsisnya menceritakan tentang kisah lagu Gabby yang judulnya Tinggal Kenangan yang sekitar 4tahun yang lalu sempat nge-hits di Indonesia. Lagu ini punya kisah sendiri buatku, kenangan tentang kisah yang pernah terjadi padaku sekitar 4tahun yang lalu saat lagu ini nge-hits. Di ending filmnya aku merasa terenyuh sempat air matapun keluar. Lalu tiba-tiba rasa rindu itu datang, rasa sedih itu datang, teringat pasa seorang kekasih. seseorang yang pernah ada bersama orang-orang disekelilingnya yang sayang padanya, namun dia malah meninggalkan orang-orang itu....termasuk aku :’)
            Pagi itu 18 november 2009 aku terbangun dari tidur sekitar pukul 5 am. Aku beranjak keluar kamar menuju kamar mandi lalu sembahyang. Tiba-tiba ku lihat ibuku yang ada di dapur berkata “zaski gak ada” kemudian diam. Aku sempat bingung, antara percaya atau tidak. Aku kira ibu salah ngomong buat aku gak bisa percaya, di sisi lain aku ingat kalau Zaski lagi opname di RS 3 minggu ini jadi kenapa kata-kata ibu tadi tidak bisa dipercaya? Aku beranjak pergi masuk ke kamar lalu sembahyang, selesai sholat aku berdoa, “Ya Allah berikan zaski kesembuhan agar kita semua bisa bertemu dia kembali, dia bisa kembali berkumpul dengan kami. Ya Allah semoga omongan Ibu tadi keliru. Sembuhkan dia Ya Allah” kemudian aku kirim ayat-ayat Al-quran untuknya. Selesai sholat aku terdiam memikirkan keadaan zaski di RS. Aku ambil Hpku dari atas meja, kemudian aku buka ada sekitar 5 SMS mungkin lebih dari 2 orang Kakaknya Zaski, Adiknya Zaski, dan dari teman baikku. Bergetar rasanya badan ini membaca pesan itu. Berita lelayu yang isinya bilang kalau Zaski berpulang dini hari tadi sekitar jam 2.15 am. Zaski sejak SD mengidap penyakit kebocoran jantung, yang saat ini malah menjadi komplikasi karna katanya cairan jantung itu merembes ke organ lain. Sampai akhirnya detik ini Dia pulang. Tidak terasa air mata mengalir, sempat shock dan gak percaya. Tiba-tiba ada orang memanggilku dari luar rumah. Sambil mengusap mata aku keluar kamar, terlihat diluar ada adik kandung zaski dan sepupunya. Mereka datang niat untuk memberi berita lelayu itu. Singkat aku jawab, “aku sudah tahu”. Seperti mulut ini susah dan gak ada niat untuk bicara banyak. Aku masuk kembali kerumah dan bersiap pergi ke sekolah.
            Sekitar jam 6.30 am aku berangkat ke sekolah bersama temanku. Sampai di sekolah masuk ke gerbang terlihat pandangan mereka yang melihat ke arahku dalam diam. Seakan tatapan itu menyimpan banyak pertanyaan yang tertuju padaku. Sebelum masuk ke kelas aku dan temanku melewati mushola sekolah, langkahku terhenti mendengar ada yang memanggil namaku. Terlihat sudah ada banyak orang kakak kelas dan teman-temanku di sana. Aku mendekat lalu duduk, mereka memandangku penuh tanya. Mungkin! Aku diam lalu ada yang bertanya, “gimana ceritanya?”. Diam dan suasana menjadi hening, akhirnya aku ceritakan semua sampai air mata itu tiba-tiba mengalir lagi. Dan mereka ikut sedih. Sekolah ini sedang berduka. Kita semua telah kehilangan satu dari siswa sekolah ini. Semua berduka, rasanya ini adalah hari terburuk sepajang hidup ini. Di akhir cerita aku ingat sekali teman-teman nyanyi lagunya Laluna “selepas kau pergi”. Pagi itu seakan semua sedang berduka, bersama menyanyikan lagu itu, berlinangan air mata. Selesai cerita aku meninggalkan mereka lalu masuk kelas. Belum banyak yang datang pagi itu, aku masih diam duduk di kursi. Aku buka HP melihat layar berharap ada SMS dari Zaski, biasanya setiap pagi dia SMS mengirim pesan selamat pagi. Tapi pagi itu dia gak SMS, mungkin dia sedang sibuk atau sedang di periksa dokter. Kemudian aku ingat kalau dia sudah berpulang, aku diam gak mau lagi nangis. Meja di kelaspun semakin banyak terisi. Teman baikku baru datang dan bertanya bagaimana keadaanku. Semakin banyak orang yang mendatangi dan berkata, “sabar ya..” itu membuat ku malah semakin ingat dan semakin tidak bisa menerima kenyataan itu. Meskipun gak mau nangis lagi, tapi air mata itu malah semakin deras mengalir. Pelajaran dimulai sampai sekitar jam 8.30 ada pengumuman melalui pengeras suara. Aku sudah tahu itu pasti berita duka. Benar.... dari pengumuman itu semua siswa diminta memberi belas sungkawa seikhlasnya dan meminta ikut melayat nanti jam 10 ke rumah duka. Hari ini semua siswa dipulangkan lebih pagi, karna semua akan melayat mengantarkan zaski pulang untuk yang terakhir kalinya.
Air mata ini tak kunjung surut juga. Sama sekali gak habis pikir. Hari Minggu kemarin sebelum hari terburuk ini. Zaski SMS, dia bilang hari Jumat tanggal 20 November 2009 dia sudah boleh pulang. Zaski tuh seneng banget dibolehin pulang, aku juga ikut seneng. Seneng banget malah. Dia janji mau nraktir aku dan semua temannya kalau sudah pulang besok. Iyaa kamu pasti sembuh kok, aku bilang. Sebelum hari minggu itu tepatnya malam Jumat sehabis magrib tiba-tiba Dia SMS minta maav atas semua kesalahan dia selama kita ‘bareng’. Hampir 1 bulan zaski dirawat di RS. Dan hari jumat itu harusnya aku pergi ke RS jenguk Dia bersama keluarganya. Tapi ada saja halangan sampai aku menunda rencana itu. Dan kita Cuma bisa komunikasi lewat telfon, SMS. Sudah Cuma itu yang aku bisa. Minggu sorenya Dia SMS kalau dokter gak jadi bolehin Dia pulang karna kondisinya malah turun. “sabar yaa..” aku bilang waktu kita telfon siang itu. Hari senin, selasa Dia gak ngasih kabar. Dan SMSku pun gak ada balesan. Aku mulai khawatir, rasa gak enak dan pikiran macam-macam muncul. Ternyata dari hari senin masuk ruang ICU, koma. Sampai akhirnya Dia memang benar pulang Minggu ini seperti janji dokter padanyaa. Iyaa Dia pulang di rumah terakhirnya....surgaa. rasa sesal mungkin sampai saat ini masih saat aku belum sempat dan gak jadi jenguk Dia di RS. Aku belum sempat melihat keadaannya di sana. Maav zaski aku gak ada di sana saat nafas tekahir kamu :’( rasa sesal ini selalu menyelimuti setiap hari selepas kepergiannya. Tapi untuk apa? Gak ada gunanya lagi menyesal. Itu sudah berlalu.
Pulang sekolah sekitar jam 10 semua murid sudah dibolehkan pulang, banyak sekali murid yang ikut melayat di sana. Sampai di rumah duka kita hanya melihat dari jauh, dan aku gak bisa lagi melihat wajahnya setelah hampir satu bulan gak pernah lagi bertemu. Acara pemakaman jam 2pm. Ini baru jam 10 tapi para pelayat sudah datang untuk mengucapkan turut berduka cita pada keluarga Zaski. Hari itu hujan, tidak lama ta’ziah dari sekolahku pamit pulang, dan kami semua pulang ke rumah masing-masing. Aku masih tidak percaya akan kejadian ini, aku masih berfikir zaski masih di rumah sakit masih dirawat.
Sampai di rumah, hujan masih lebat. Aku diam di kamar, memandang layar HP berharap ada SMS dari Zaski. Sampai tiba-tiba ada SMS dari teman baikku. Dia bilang mengajak ke acara pemakaman Zaski, dan tibalah temanku di rumahku. Kami ke rumah duka bersama orang-orang sedesa yang melayat. Saat itulah terakhir aku melihat Zaski untuk terakhir kalinya. Tapi bajunya berbeda tidak seperti biasanya. Dia terbungkus selembar kain putih dengan mata tertutup dan terlihat dingin, pucat. Aku merasa terpukul serasa luka yang tersiram perasan jeruk. Aku melihat zaski dimasukkan ke keranjang kemudian kain hijau itu menutup seluruh bagian keranjang yang di sebut keranda. Kemudian aku tak bisa lagi melihat Zaski, dia sudah tidak terlihat tertutup kain hijau itu. Saat bapak kiayi berkata “Laaailahaillallah...laaailahaillallah..” dan semua jamaah menirukan bersama keranda yang sudah di pundak pemuda-pemuda kemudian berjalan meninggalkan rumah duka. Sebagian ada yang tetap di sini dan ada yang ikut ke makam. Aku bersama beberapa orang ikut ke makam tapi tidak dibolehkan masuk, kami melihat dari luar pagar makam. Siang itu masih hujan yang lumayan lebat. Untuk terakhir kalinya aku melihat jasad Zaski di angkat kemudian diturunkan ke dalam rumah terkhirnya sebelum dia ke Surga. Tanah merah itu mengubur jasadnya bersama kenangan bersama orang-orang yang sayang padanya...termasuk kenangan saat kita bersama dulu. Sore itu semua orang berduka, sampai langitpun ikut menangis. Hujan tak kunjung reda seiriing tanah merah yang sudah menguburnya. Hati itu rasanya ngilu, kenapa harus Dia? Aku masih belum bisa terima saat itu. Kami pun pulang meninggalkan makam ke rumah masing-masing.
Hari setelah itu mungkin karna belum bisa menerima kenyataan, setiap malam aku masih saja mengirim pesan ke Hpnya. Setiap hari menunggu dia bales SMSku sampai akhirnya ada SMS dari nomor Hpnya yang isinya meyakinkan aku kalau zaski sudah gak ada lagi. SMS dari adiknya ternyata. Setiap sore aku sempatkan mampir di makam zaski, aku ingat menanam pohon bunga melati di atas tanah makamnya, sampai pohon itu berbunga aku sempat melihat:)
Hari-hari berlalu seperti biasa hanya saja aku gak lagi bersama Zaski. Aku gak mau terus berlarut dalam kesedihan itu. Semakin aku gak terima dia pasti malah sedih di sana. Aku harusnya bahagia karna Dia sudah bahagia di Surga. Dia pasti lebih bahagia di sana dari pada di dunia bersama rasa sakit yang dia rasakan setiap hari. Aku semakin mencoba mengihklaskan dia. Besok juga kita pasti akan bertemu lagi kok. Cuma sekarang belum saatnya kita bertemu lagi. Terimakasih Zaski sayang yang sudah membuatku belajar rasa kehilangan dan ikhlas. Kamu pergi meninggalkan kenangan manis untuk kami. Meskipun kamu gak bareng kita di sini lagi. Tapi apapun tentang kamu akan terus ada di hati kami. Aku dan semua teman-teman sayang kamu. Kami akan selalu berdoa untukmu. Aku akan selalu ingat hari bersejarah itu. 18 November setiap tahunnya aku akan selalu ingat dimana hari itu adalah hari bersejarah dalam hidup kita. Iya kita, aku dan kamu. Cuma raga kita saja yang berpisah. Tapi kamu akan selalu di hati kami selama-lamanya. Kamu akan selalu menjadi bagian dari hidupku. Kenanganmu akan selalu tersimpan sampai kami menyusulmu kelak. Semoga kamu selalu dalam dekapan-Nya, bahagia selalu di sana. Doakan kami semoga sukses dan bisa buat kamu bangga di sana. Persahabatan kita semua gak akan pernah terlupa, dan kisah kasih kita yang akan selalu menjadi kenangan yang terindah. 
We Love You Zaski Wildani :)




TINGGAL KENANGAN

pernah ada rasa cinta
antara kita kini tinggal kenangan
ingin ku lupakan semua tentang dirimu
namun bayangmu selalu ada dalam setiap langkahku

jauh kau pergi meninggalkan diriku
di sini aku merindukan dirimu
kini ku coba mencari penggantimu
namun tak lagi kan seperti dirimu

jauh kau pergi meninggalkan diriku
di sini aku merindukan dirimu
kini ku coba mencari penggantimu
namun tak lagi kan seperti dirimu oh kekasih

masih terlintas di mataku
gambaran wajahmu yang kini tinggal kenangan
ingin ku lupakan semua tentang dirimu
namun bayangmu selalu ada dalam setiap langkahku

jauh kau pergi meninggalkan diriku
di sini aku merindukan dirimu
kini ku coba mencari penggantimu
namun tak lagi kan seperti dirimu

jauh kau pergi meninggalkan diriku
di sini aku merindukan dirimu
kini ku coba mencari penggantimu
namun tak lagi kan seperti dirimu oh kekasih

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

#CerpenErika #part1 "Bohongmu Buat Hati Tersenyum"

Aku adalah ? siapa ya. Sebut saja Rika. Kata film yang pernah aku tonton dibagian prolog isinya “siapapun kita pasti punya seseorang yang kita suka secara diam-diam, saat kita ingat orang itu kita merasa....sesak di dada. Tapi kita terus menyukainya. Walaupun kita tidak tahu dimana dia sekarang. Apa kabarnya? Tapi dialah yang membuatku seperti ini. Hal kecil yang disebut CINTA”. Seperti juga aku yang cerita saat sejak awal suka pada seseorang itu akan dilampirkan di cerpen yang lain. Karna di sini aku hanya ingin menulis tentang setiap kebohongan yang seseorang itu katakan mampu membuat hatiku tersenyum. Aneh kan? Tapi entahlah seseorang itu, sebut saja dia Bombai. Bombai yang mampu buat aku seperti ini. Saat dia berkata manis didepanku, contohnya: “rika, kamu makin cantik aja.” Padahal dia bohong, tapi itu membuatku senang. Yang lain? “iya rika, aku sayang sama kamu” hahaha itu SMS yang Bombai kirim ke aku, dan juga gak tau dikirim ke siapa aja. Saat dia gak SMS bilangnya lagi pingpong apa lagi tidur, tapi tidurnya 12 jam. Hehe Duhhh Bombai kamu tuh kayak cabai rawit, pedes sih tapi aku gak kapok makan :D malah nambah teruss..
Kalau kamu tahu ya Bombai, kamu bohong berkali-kali juga aku susah buat benci sama kamu, mungkin itu yang dimaksut Hal Kecil yang disebut Cinta. Hehe entah bagaimana hal kecil bisa mengexsplor ke seluruh bagian otakku. Logika ini kalah saat kamu sudah mulai bicara, kadang aku sadar kok, aku ini siapa kamu ._. tapi kamu sendiri yang buat aku ingin sekali berharap. Kamu yang datang di kehidupanku, membuatku seperti orang bodoh yang gak ada kapoknya di bohongin. By the way Bombai itu lulusan sekolah sastra apa ya? Emm kayaknya bukan deh, jelas-jelas Bombai masih kelas 2 SMK, haha tapi kata-kata dia tuh ngalahin kata-kata guru Bahasa Indonesiaku di sekolah lho. Hehe gimana juga aku tetep “IYA” kalau sama Bombai. Bombai kamu bohong ratusan kali aku masih Cinta sama kamu, apalagi kamu gak pernah bohong. Hehe :D saat kamu bohong, semua terasa biasa saja gak ada jengkel-jengkel apalagi marah sama kamu. Semua terasa gak ada yang bohong, gimanapun juuga aku tetep belain Bombailah. Oke Bombai makasih ya, kamu tetep Luar Biasa disini. Besok akan terbit lagi cerpen tentang kamu yang aku tulis sejak lama di Buku, Bombai part #1 part #2 part #3 dan seterusnya. Hehehe selamat malam Bombai :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
 

Desy Afrida Hardiyati Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez